Senin, 17 Maret 2014

Senang atau Bahagia?

     Semasa PKL (Prakterk kerja lapangan) kemarin, sempat saya menghadiri salah satu agenda rutin. "Pemilihan Duta Layanan" dalam pemilihan tersebut kontestan diminta untuk berjalan menelusuri panggung dengan Cat Walk dan selanjutnya diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan pilihan juri.
     Dan, setelah sekian bulan. Ada satu pertanyaan yang selalu singgah dalam benak saya, "Jika anda diberikan pilihan untuk senang atau bahagia, yang manakah menjadi pilihan anda? Mengapa" tanya salah seorang MC dalam acara tersebut. Dan, kontestan dalam pemilihan Duta Layanan menjawab "Senang." dengan alasan pemilihan yang telah saya lupa.

     Jika pertanyaan itu disinggahkan kepada saya. Jelas saya akan memilih jawaban yang berbeda dari kontestan. Saya akan memilih untuk bahagia. Kenapa?
     Menurut pandangan saya, senang itu mengahdirkan tawa (yang bersifat tidak leboh dari pada beberapa menit). Sedangkan, bahagia merupakan  bentuk rasa syukur yang kita terima dengan baik. "Saya sangat bahagia, memiliki keluarga yang utuh. Anak yang sangat cantik, Suami yang sangat sayang. Walaupun, terbatas dalam keadaan ekonomi."

     Karena senang, hanya bersifat sementara. Tapi, bahagia itu tentang rasa aman dan senang dalam jangka waktu yang lama, rasa senang yang tidak berlebihan. Karena bahagia, merupakan salah satu bentuk rasa syukur.

     Saya bahagia dapat bercerita disini. Walaupun tulisan sederhana ini tak sebaik tulisan S Gegge Mappangewa, tak selucu tulisan Raditya Dika, atau pun sekeren tulisan Tere Liye. Bagi saya, sebuah kebahagiaan dapat menulis dan menuangkannya. Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar