Selasa, 15 April 2014

Cermin Keker #Terbit "ITU BUKAN AKU"

Terbit di Harian Fajar
Keker
Makassar, 12 April 2014

Itu Bukan Aku
Oleh : Airly Latifah

          Aku bergidik ngeri menatap high heel di meja belajar berwarna pink. Beberapa waktu yang lalu Ibu menyodoriku benda berwarna emas setinggi tujuh sentimeter ini. Aku harus mampu berjalan elok dengan benda ini. Seperti perintah Ibu. Sedangkan aku berjalan lebih kaku dari robot. Jalanku terpatah-patah, bak bayi yang tengah belajar berjalan.

          Hidupku penuh dengan aturan dari Ibu. Usiaku dua belas tahun. Terhitung tiga tahun sepeninggalan ayah. Dan aku gelap akan identitasku.

          “Wanita itu harus anggun, gemulai dan lemah lembut. Bukan kaku!” Ibu mengangkat suara memakiku. Sangat dingin. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Berusaha mengamanahkan perintahnya. Inginku abdikan hidup ini padanya.

          Kembali aku berusaha melangkah seanggun, segemulai, dan selembut mungkin. Langkah kedua.. ketiga.. keempat.. hingga kedua puluh tak ada perubahan. Masih sama buruknya.

          Langkah kelima puluh, kakiku mulai memberontak. Melangkah semakin berat. Sangat sulit. Kakiku seperti menyeret dua anak kecil sekaligus. Semakin berat. Hingga aku terkilir. Aku menahan nafas seraya menengadah berharap airmataku tak jatuh. Karena aku tahu, dalam beberapa detik tumpahan makian Ibu harus kutabung.

          Ayah, Aku akan tetap menjaga janjiku, tuk tak menangis. Batinku lirih.

          “Perempuan bodoh!” satu tamparan telak mendarat di pipi kananku. Berusaha kumeneguhkan hati.

          “Maaf ,Bu!” jawabku kelu.

          “Tak ada kata maaf! Lakukan lagi! Jika kau gagal dalam tiga puluh menit. Kuhantam kau dengan sapu lidi!” tatapannya nanar. Dalam hati bertabur kesal Ibu meninggalkanku.

          Aku tersungkur. Kembali makian itu menohok hati. Ibu tak pernah tanggung dalam bicaranya. Dalam satu bulan terakhir ini, pukulan sapu lidi itu sudah kuterima hampir setiap hari. Aku menatap seluruh ruangan berdominasi warna pink putih bertaburkan boneka barbie. Sangat indah. Hanya saja, ini bukanlah tempatku.

***

          “Kau tahu! Aku melahirkanmu untuk menjadi wanita! Wanita anggun dan sempurna!” suara Ibu semakin meninggi. Lebih tinggi dari teriakan para penagih hutang. Gendang-gendang telingaku ikut berdengung. Aku meringkuk dalam takut. Kembali aku gagal. Kakiku yang memerah terluka bergesekan dengan bahan keras high heel. Melepuh dengan sempurna.

          Hantaman pertama. Tepat pada sasaran. Aku meringis kesakitan.

          “High heel itu masih terlalu rendah!” Ibu Semakin menyalak buas. Siap memangsaku habis.

          Hantaman kelima. Bukan main sakitnya. Betisku serasa tersayat-sayat pisau dapur. Hingga hantaman ketujuh aku tersujud jatuh. Tak mampu lagi menahan tubuhku untuk berdiri. Mataku berkunang-kunang.

          “Kau adalah Wanita! Camkan itu!” Ibu melangkah menjauhiku. Tanpa rasa bersalah. Aku kalah. Airmataku tumpah. Malam itu aku menangis. Maafkan aku ayah. Aku melanggar janjiku.

          “Aku pria, Bu!” tercungkil sudah semua buncahku. Aku mulai menampik skenario karyanya. Aku tahu Ibu mendengarku. Dan aku juga tahu Ibu munafikkan.

           Ibu menutup kenyataan dengan gelayutan dusta. Betisku membiru melegam. Mataku memanas, aku menangis lagi. Maafkan aku, Ayah. Batinku sesak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar