Minggu, 27 April 2014

Meramu Kata

           Apakah saat ini aku tengah membutuhkan beberapa gula pasir, mentega, tepung, ataukah telur untuk meramu kata? Kurasa ini bukan permasalah bahan. Walaupun tanpa bahan rasanya peramuan ini akan tetap bermain pada rasa. Lalu bagaimana?

           Bagaimana mungkin ada sebuah rasa tanpa ramuan bahan dapur yang selama ini selalu menggoyang lidah. Tidak, Tuhan selalu menyiapkan dan menyelipkan rasa ini bahkan tanpa bumbu dapur. Tuhan menyelipkan rasa ini tanpa perlu racikan yang mahal dan sulit, belum lagi suhu dalam memasak. Tidak, semuanya selalu sederhana dan sempurna dalam sentuhannya. Sama sempurnanya seperti Ia meletakkan kegelisahan ini padaku. Pada perempuan mendung yang tengah duduk manis meramu kata di depan komputer.

           Tidak, bukan mendung seperti hujan yang mengetuk tanah. Tapi, lebih dari itu, mendung  ini tak kunjung berhenti. Tentang sebuah perasaan gelisah yang tak tahu dari mana sumbernya. Tentang kepala yang tak tahu kenapa tak bisa berhenti berfikir dan merasa gelisah. Hari ini, sudah beberapa kali saya mencoba mencari kesenangan. Entah dengan bermain dengan kata-kata, atau hewan peliharaan atau apalah. Tapi, tak kutemukan cahaya yang mencerahkan itu.

            Aku ingin meramu kata untuk menceritakan ini. Sebuah kegelisahan yang bersumber dari sesuatu yang kuat. Tentang sesuatu yang mungkin selama ini dikenal sebagai rindu. Tentang perasaan yang selalu dirasakan setiap manusia. Karena siapapun pasti menyimpan satu atau lebih rasa rindu. Sebuah rasa yang selalu membuat perasaan kacau. Beringsut tak karuan.

             Entah bagaimana memulainya, entah bagaimana mengakhirinya. Perasaan ini hanya pandai mengetuk. Perasaan yang hanya bisa diselesaikan dengan pertemuan. Tak peduli seberapa lama, tak peduli seberapa jauh. Tapi perasaan ini ingin diakhiri. Dengan sebuah pertemuan.

              Ah, bagaimana bisa?
              Sedangkan keberadaanmu saat ini saja aku tak tahu.
              Harus berapa katakah yang kuramu agar semua ini tuntas? Oh, tidak! ini hanya bisa dituntaskan oleh sebuah pertemuan.
              Izinkan aku terus meramu kata sampai pertemuan itu tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar