Selasa, 15 April 2014

Perkelahian Fadly


Perkelahian Fadly
Oleh: Airly Latifah

     Fadly terduduk diam di hadapan Bapaknya, Pak Ahmad. Dia tak berani sedetik pun menatap mata Bapaknya. Masih terbayang-bayang kejadiaan yang terjadi di sekolah tadi. Terlalu banyak pikiran yang tertabung dalam kepalanya.

      “Berkelahi! Kenapa, Nak? Kenapa kau berkelahi?” suara Pak Ahmad meninggi. Tak habis pikir atas kelakuan putra tunggalnya. Bagaimana bisa putra yang dia didik dengan baik bisa bertingkah seburuk ini.

      “Maaf, Pak!” hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari bibir Fadly. Tak ada kekuatan lagi baginya. Kepalanya masih terlalu penuh atas tumpukan gelisah. Belum lagi pipinya yang terasa sakit ketika berbicara. Lengkap sudah.

      “Kita ini orang miskin. Bapak tidak bisa membelamu jika temanmu melapor ke polisi. Bapak hanyalah tukang becak.” tegas Bapak dengan wajah memelas. Tubuhnya sudah terlalu lelah malam ini. “Kau tidak boleh makan malam ini! Kau Bapak kurung di kamar!”

      Di sinilah Fadly, duduk termenung di bawah remang-remang lampu jalanan yang mengintip di sela-sela jendela kamarnya. Dengan pipi yang legam dan merah bekas tonjokan. Belum lagi tangannya yang sakit karena sempat menghantam tulang pipi temannya. Fadly hanya berusaha menjalankan amanah Ibunya.

       Fadly rindu pada Ibu. Jikalau Ibunya belum pergi ke alam yang berbeda mungkin dia akan berbagi semua hal. Berbagi atas kegelisahannya. Semuanya. Tapi, untuk berbagi dengan Bapak, dia kaku. Semua keluh kesal itu hanya akan mengantung di langit-langit rumah kontrakan mereka.

      Malam itu, dengan pipi yang berdenyut-denyut Fadly mencoba menidurkan dirinya. Mengistirahatkan segala hal yang mengganjal di kepala dan hatinya.

      Bapak, Fadly minta maaf!
***

       “Berjanjilah kau tak akan berkelahi lagi. Tak boleh!” pinta Bapak memulai percakapan pagi itu. Di meja makan yang hanya berisikan dua gelas teh hangat. Tatapan Bapak begitu dalam dan lurus.

      “Ia!” jawab Fadly pelan. Lalu melanjutkan, “Mungkin.” Dengan intonasi yang lebih pelan.

      “Ibumu pasti tak suka melihatmu berkelahi.” Bapak kembali menyesap teh hangatnya. Sedangkan, Fadly masih duduk terpaku. Diam. Tak tahu harus bagaimana masih banyak kegelisahan yang berkelebat di kepalanya. Rupanya, tertidur semalam belum cukup menghapus setitik nila pun kegelisahnnya.

      Ibu tidak akan marah aku berkelahi, Pak! Dia yang memintaku. Batin Fadly dengan mata yang menatap lurus pada seragam putih biru-tua lusuhnya.

***

      Siang itu di tengah teriknya matahari yang menyorot topi lusuh Bapak, Fadly mengulangi kesalahannya. Dengan dada naik turun, Bapak mempercepat kayuan becaknya. Ingin segera mendidik ulang anaknya.

      “Bagaimana bisa kau berkelahi lagi? Bukannya kau sudah berjanji dengan Bapak!” tegur Bapak seketika mendapati anaknya bertambah luka.

      “Maaf, Pak!” jawab Fadly lirih.

      “Kenapa? Katakan, kenapa kau berkelahi?” amarah Bapak mulai menyulut. Sedikit lagi kepalan tangan itu akan menghantam Fadly.

     Fadly sudah cukup terluka. Jika Bapaknya menghantamnya, Fadly akan semakin terluka. Tidak! Dia harus jujur saat ini pada Bapak. Dia tak boleh menyimpannya lagi. “Dia menghina Bapak! Di.. Dia.. bilang Bapak itu..... tukang becak yang...je... jelek, miskin, dan bodoh. Fadly memukulnya karena sayang sama ba.. Bapak!” jawab Fadly terisak. Airmatanya luruh. Dia harus mengadu pada Bapak.

     Seketika, Bapak terduduk dan memeluk anaknya. “Maaf, Nak! Terima kasih sudah sayang sama Bapak. Terima kasih juga telah menjaga harga diri Bapak!” setetes airmata luruh di samping kelopak mata Bapak.

     Terngiang kembali amanah yang pernah disampaikan mendiang Ibunya. Terngiang begitu jelas di telinga Fadly, “Kita boleh miskin. Tapi, kita harus menjaga harga diri. Ingat, Nak! Harga diri itu adalah emas kita. Tak ada yang boleh merusaknya. Jaga harga dirimu, Bapakmu, keluargamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar