Selasa, 15 April 2014

Sebuah pilihan


Sebuah pilihan
Oleh : Airly Latifah

       Mataku menyapu lapangan bola yang maha luas. Begitu banyak pemain hebat disini, mereka pasti hebat dalam mencetak gol. Sekarang, Ayah pasti tengah berfikir aku sedang duduk manis di depan meja belajar, berusaha menghafal jenis-jenis obat yang ada dalam Farmakognosi.
       Sejak kecil, Ayah selalu mendorongku menjadi seorang dokter. Dokter yang ahli dalam mengobati. Lebih tepatnya, Ayah memaksaku menjadi seorang dokter. Tapi, jiwaku ada di sini, di atas lapangan hijau.

       Randy, itulah aku. Aku mencintai sepak bola sejak usiaku menginjak enam tahun, saat aku baru memulai masa esde-ku. Sedangkan, obat-obatan? Aku bahkan lupa caranya jatuh cinta saat bertatap muka dengan benda ini.

       Aku tahu, dalam setiap do’a Ayah selalu tersematkan harapannya untuk menjadikanku sosok berjas putih, yang berkalungkan stetoskop. “Ayah, mimpi terbesarku adalah membawa nama Indonesia dalam liga dunia.”

       Berat rasanya terjebak dalam keinginan Ayah, beberapa masa aku sengaja membuat nilai sekolahku jatuh. Alasannya, aku ingin Ayah sadar bahwa ini bukanlah tempatku. Tapi, usaha itu sia-sia. Ayah tetap saja tersenyum dan memintaku berusaha lebih baik lagi.

       “Aku hanya ingin Ayah yang mengerti aku. Karena akulah yang akan menjalaninya, bukan Ayah!”

***

       Hari yang paling kunanti akhirnya datang juga. Saat ini, seluruh mata telah menyorotku dan Tim. Beberapa menit lagi pertandingan ini usai, pertandingan antar provinsi ini akan menentukan takdir Timku. Menang, atau kalah.

        Di lapangan bola yang maha luas nan hijau ini. Kami saling berjuang untuk memperebutkan bola. Mencetak gol-gol yang cantik dengan strategi yang lebih cantik lagi. Demi harapan ditengah deburan nafas yang terengah-engah ini.

       Dan, di menit berikutnya sorakan penonton semakin menggila. Beberapa dari mereka terlihat tertunduk lusuh, pertandingan ini selesai dengan tiga-dua. Kemenangan untuk kami.

        “Pulanglah segera! Ayahmu mencarimu.”

        Deg!

        Pesan dari Ibu. Kubaca berulang-ulang. Apa maksudnya? Apakah Ayah tahu aku ada disini? Apakah Ayah tahu aku bertanding? Tanpa menghiraukan sorakan teman se-timku di ruang ganti, kupercepat langkahku meninggalkan mereka.

***

        “Halo, Pak! Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

        “Begini, Dok! Belakangan ini kepala saya sering sekali pusing.” jawab pasien yang baru saja duduk di ruang kerjaku. Yah, disinilah aku. Tengah duduk melayani konsultasi pasien. Ayah, aku telah berjas putih, dengan leher yang dipeluk stetoskop. Tapi, ini tak mampu mengembalikanmu.

        Pesan singkat Ibu tujuh tahun yang lalu menatapkan aku pada kenyataan yang selama ini disembunyikan Ayah. Disembunyikan sangat rapat. Sebuah keinginan paling mulia dari Ayah; “Ayahmu ingin kau jadi Dokter, dia selalu berharap kau bisa menyelamatkan sebuah keluarga. Atau sekedar membuat merekaa merasa lebih baik, memperpanjang kebahagiaan mereka. Hanya itu.” Kata-kata Ibu melintas sejenak di kepalaku.

        Ayah telah pergi. Sebuah penyakit jantung kronis telah merenggut Ayah. Membawanya pergi meninggalkanku. Membuat seluruh harapan dan asa luruh seketika di hari yang sama saat kemenanganku di pertandingan antar provinsi.

       Sejak hari itu, sepak bola tak pernah berarti lagi bagiku. Sepak bola hanya mengais rindu dan sakit hatiku. Aku menyesal tidak menemani Ayah di masa terakhirnya hanya karena sebuah bola. Ooh, Aku hanya ingin Ayah kembali saat itu.

        “Ayah! Aku mencintaimu! Kumohon maafkan aku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar