Minggu, 27 April 2014

Secarik Cerita untuk Jaharah

          Kepada gadis yang saat ini tengah menatap indah rembulan taman kota. Gadis yang menemaniku membuat sebuah ikrar kesetian. Gadis yang mengajariku sebuah kesetian yang benar-benar mahal harganya. Hanyalah kepada satu perempuan. Dia.

          Malam ini satu hari telah meninggalkan kita, hal yang patut saya syukuri adalah Tuhan menggenapkan segalanya hari ini untukku. Menggenapkan segala keganjilanku bersamamu. Menjadikan satu mata kecil yang tengah menangis seindah mataku saat ini. Kau tahu, bagaimana sedihnya aku malam itu?

          Tunggu? Apakah ini saatnya membicarakan masa lalu? Pasti kau akan menjawab Iya, karena ada jutaan pertanyaan yang selalu singgah di kepalamu, pertanyaan mengapa aku sangat mengenal detail kecil dalam dirimu. Sedangkan kita baru berkenalan beberapa bulan. Pertanyaan yang selalu kujawab dengan senyum simpul. Dan kau membalas dengan menjambak rambutku. Hingga hari ini, sebelum bertemu denganmu, menatap matamu di malam pertama kita, kuyakin itulah pertanyaan kesejuta yang akan kau serangkan untukku.


            Aku pernah menatap mata itu sebelumnya, menatap mata penuh dengan tangisan itu sebelumnya. Kita sama-sama menangis saat itu. Lucunya, aku menangis karena melihatmu menangis. Ada kepiluhan tajam di relungku melihatmu menangis, terlebih saat aku tak bisa melakukan apapun saat kau menangis. Bagaimana mungkin aku bisa menggenggammu, menerobos ketengah panggung yang ramai kerlap-kerlip mata. Kau
menangis. Berusaha menyeka tangismu dengan punggung tanganmu. Tangisanmu luruh lebih cepat, punggung tanganmu kini basah sekali, rasanya aku ingin meminjamkan punggung tangan ini untukmu.



            Tapi? Bagaimana bisa aku melakukannya. Usiaku menginjak 5 tahun, dan sama sekali tak mengerti mengapa aku ingin melakukan itu. Bagaimana aku mengerti itu sebuah cinta, Jaharah?
Dulu aku menganggap semua itu biasa, karena seluruh orang di samping kursi penontonku, bukan. Bukan hanya di samping, tapi semua penonton luruh tangisnya, Jaharah. Karenamu. Karena tangismu.

          Malam itu, malam pertunjukan pertamamu sebagai peserta lomba baca puisi. Kau diminta mengambil salah satu amplop dari kesepuluh amplop. Tapi, kau memilih yang berwarna pink. Kau memilih puisi beramplop pink untuk kau bacakan. Kau, aku, dan seluruh penonton belum tahu apa judulnya. Bagaimana isi puisi itu. Tapi, kau terpaku sangat lama saat membuka amplop itu. Kau membeku diatas panggung. Kau seolah linglung, latihanmu berbulan-bulan kacau.

          Sudah ada dua terguran dari moderator dan Mc untuk segera membaca puisi, akhirnya air matamu luruh. Kau berusaha meramu kata. Dan, kata-katamu sempurna mengundang mata untuk menangis.
"Ibu.. Puisi ini berjudul Ibu. Aku tak tahu bagaimana membacanya, pesan guruku aku harus menjiwai puisi ini. Seolah aku merasakannya. Tapi? Bagaimana aku menjiwai puisi ini? Sedang aku sendiri tak kenal siapa Ibu. Aku tak mengenalnya, tak pernah sekali pun."

          Itulah saat pertama kali aku mengenalmu, sejak itu. Aku selalu mencuri pandangan untuk menatapmu. Merasa geli sendiri mendapatimu. Dan malah terkadang gelisah tanpa melihatmu. Usiaku tujuh tahun, dan perlahan aku mengenal rasa rindu. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi, rindu pertamaku untukmu, Jaharah.

          Usiaku menginjak 10 tahun saat kau mendapatiku. Mendapatiku mengintipimu di sela-sela buku perpustakaan. Dan saat kau tanyai namaku? Kau ingat aku menjawabnya apa? "Barny!" Aku menjawab sembarang. Tak ingin kau mengetahui siapa aku.

           Lucu bukan? Apakah kau mengingat Barny, Jaharah? Seorang remaja tanggung yang bernama persis seperti aktor dinasaurus ungu yang menyanyi-nyanyi di tengah taman kanak-kanak. Bukankah itu nama terburuk yang pernah kau dengar. Nama terburuk untuk seorang laki-laki. Dan kau hanya mengangguk sebentar. Tapi, kulihat kau sedikit menahan tawa. Jaharah, kau tahu apa yang kupikirkan masa itu? "Aku sangat senang dapat membuatmu tertawa, Jah!" itu yang aku pikirkan.

           Hingga kini. Saat usiaku menginjak 19 tahun. Waktu merancang ceritanya untukku. Aku meninggalkan kota. Panggilan pekerjaan. Bulan pertama aku meninggalkan kota kita, tapi... Belum genap dua bulan aku bekerja, aku harus meninggalkan Negara kita.

           Usiaku 23 tahun, hingga akhirnya waktu merancang kembali pertemuan kita. Pertemuan antara Jaharah dan Fiqrah. Bukan sebagai Barny. Jangan pikir selama aku meniggalkan kota, aku tak mengetahui perkembangan tentangmu. Saat usiamu, 20 tahun ada seorang pemuda Pekanbaru yang melamarmu. Tapi ayahmu menolak, lamaran kedua ketiga. Hingga kelima juga ditolak. Entah, bagaimana sistem penilaian Ayahmu. Aku sendiri sampai menyiapkan berbulan-bulan untuk memberanikan diri melamarmu pada Ayahmu. Tapi, aku bersyukur Ayahmu menerima lamaranku setelah dua minggu aku terus menemuinya. Lamaranku adalah lamaran ke-tujuh, bukan?

          Lelaki pelamarmu bukan main orang sembarang, yang mendekatimu lumayan berkantong. Tapi, waktu memang merencanakan kita untuk bersama. Jaharah, aku juga tahu kau beberapa kali menjuarai penulisan buku selama kuliah. Kau hebat Jaharah.
Ahh, aku juga tahu kau pernah menyimpan hati pada seseorang. Lelaki tampan teman kelasmu di tempat kuliah. Lelaki berhidung bangir dengan kulit putih. Kau patah arah saat mengetahui dia penyuka sesama jenis. Konyol sekali, aku terbahak-bahak mendapati kabar itu. Dan tersenyum simpul mengetahui aku mendapat cela lagi.

          Jaharah, kurasa. kucukupkan saja ceritaku ini. Ini malam pengantin. Kau pasti tahu apa yang kuharapkan sampai tak ingin berlama-lama di sini, menuliskan tentangmu. Ah, kau pasti mengerti.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar