Jumat, 30 Mei 2014

Ayah, Aku Rindu Pada Ibu

Ayah, Aku Rindu Pada Ibu!
Oleh : Airly Latifah

Ini surat terkahir Ibu!
Surat ke-duapuluh sejak aku masih belajar mengeja
Rangkaian sajak mengandung rindu
Menderu
Menggebu
Ayah! Aku menabung rindu yang menuntut tuk buncah
Aku rindu pada Ibu!

Ayah, dimana Ibu?
Sekejap darahmu berdesis
Matamu memerah
Tanganmu mengepal, menggila
Perih ini menjadi sempurna

Inginku nikmati sakit ini lebih lama
Tempat ini beraroma luka
Aroma serbuk hitam yang tak larut sempurna menyisahkan cerita
Tumpah ruah dari pecahan beling yang kau satukan dengan dinding
Luka inii kutaruh di wajahmu

Ibu! Datanglah, peluk aku walau hanya beberapa tarikan detik
Ibu! Izinkan aku membenci Ayah!
Aku ingin memupuk benci padanya
Pada pagar yang memopangku berdiri
Pada cucuran keringat dari kulit hitam legam berkeriputnya
Padanya yang kian senja!

Ayah? Kau menjelma bak meriam ketika mendengar nama Ibu
Meriam yang siap memuntahkan isi perutnya
Seolah aku tengah berteriak 
Bersumpah serapah
Berkata "Tuhan itu tidak ada!"
Tapi, Ayah, aku hanya bertanya tentang Ibu.

Dimana Ibu?

Ayah..
Ruang tidurmu masih dipenuhi raut wajahnya
Lalu? Mengapa?
Apa yang tidak kuketahui
Andai, kicauan burung dapat kumengerti, merekalah yang akan menafsirkannya.

Ayah!
Dimana Ibu?
Rembulan sempurna menyetubuhi kita
"Mengapa kau ingin bertemu dengannya?" tanyamu melunak
"Kenapa? Dia telah pergi" kalimatmu menggantung di langit-langit rumah petak kita
"Dia memilih lelaki lain, yang kaya, yang tampan, yang hebat. Menjadi simpanan petinggi negara. Melupakan Ayah yang kian menjadi senja." lanjutmu
Setitik berlian luruh
Bermuara tepat di hatiku

Panas ini membekukanku
Sempurna sudah peri ini

Ayah! Tidakkah Ibu mengingatku? kau? kita?
Buliran berlian itu kian luruh
Menganak sungai
Berlian yang seolah menguak rahasia

Tak pernah sekali pun Ibu mengirimi surat
Bait itu palsu
Surat itu karyamu, bentuk peran ganda yang kau lakoni!

Ayah! Aku berjanji
Aku akan belajar membenci Ibu
Untukmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar