Selasa, 27 Mei 2014

Bercermin pada Lampu Merah

   Darahku mendidih pada manusia-manusia yang sangat suka melanggar lampu lalu lintas, tak peduli lampu lalu lintas menunjukkan warna apa mereka tetap saja melenggak lenggokkan kendaraan yang dikemudikannya untuk menerobos. Entah dimana titik kesadaran mereka, tak pernah peduli tentang hak orang lain untuk berjalan, lupa pada bahaya kecelakaan karena melanggar lampu merah.

   Bukankah salah satu bentuk keadilan adalah "Tidak berat sebelah, dan selalu menyelaraskan atau memparalelkan antara hak dan kewajiban." tapi? bagaimana mungkin lebih banyak orang yang peduli pada haknya dan melupakan kewajibannya untuk sekedar menunggu beberapa tarikan detik di lampu merah. Seolah mereka lupa bahwa lampu merah hanya menahan mereka beberapa detik, bukannya bertahun-tahun.
Andai kata para lampu lalu lintas itu bisa berbicara, pastilah suaranya sudah hilang karena bosan menegur.

   Ohh, dimana kesadaran para masyarakat? Bukankah di Singapura, para pengguna jalan sudah berhenti 5 beberapa menit sebelum lampu merah. Sedangkan di negeriku, tak peduli merah ataukah hijau, terobos saja. Dimana tingkat kesadaran masyarakat?

   Dan, tak peduli Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta, Indonesia tidak akan bisa berubah karena siapa pemimpinnya, karena sekalipun pemimpin itu berteriak mencaci maki, bersumpah serapah, tidak akan ada yang mendengar. Dimana tingkat kesadaran itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar