Minggu, 25 Mei 2014

Dari Bilik Suara

   Tidaklah saya ingin bercerita tentang ajang demokrasi pilpres yang tinggal beberapa minggu lagi, tidak untuk Jokowi-Jk ataupun Prabowo-Hatta. Saya ingin bercerita tentang bilik suaraku. Bilik remaja yang belum cukup umur untuk memilih pemerintahnya. Karena sejauh ini saya masih Golongan Putih.

   Di sini, matahari sudah pergi dari singgasanannya, digantikan temaram bulan dan riak yang lebih sepi. Belum lagi malam, yang menyenter pantulan Bulan melalui kolam-kolamnya. Di sini, saya menyimpan sepi yang tak bertepi. Sepi yang tak pernah kau jamah. Sepi yang selalu kututupi.

   Bukankah kita semakin jauh? Semakin tak mampu lagi untuk bersatu. Bukankah sekarang jarak dan waktu bekerja sama memisahkan kita. Dan, bodohnya kau tidak menolaknya.

   Di sini sepi semakin meraja. Dentingan jam menjadi teman, tak ada apapun, tak ada teman, hanya selembar kertas untuk bercerita. Aku gundah. Kau semakin jauh. Sangat jauh. Tak mampu lagi aku sentuh. Sekalipun itu hanya kabar tentangmu. Bukankah jika terus seperti ini, kita akan pergi lebih jauh? Saling berjalan membelakangi.

   Kau tahu apa yang mereka bicarakan tentang kita, bukanlah tentang keanehan kita, atau apapun. Tapi, tentang aku, aku yang semakin sepi, aku yang seolah terbuang. Mungkin. Ada seseorang yang selalu mengatakan itu, cukup dekat denganku, dan apabila dia membaca ini, saya yakin dia akan tertawa bebas dan menambah ledekannya besok. Dia sempat berencana mengenalkan seseorang padaku, tapi gagal bahkan sebelum ia memulai.

   Matahari pergi, beberapa bulan lagi sudah genap usia kepergianmu satu tahun. Dan, jarak dan waktu semakin berhasil memberikan tenggang diantara kita. Dan, "Komunikasi itu penting!" bukankah kau yang memutus itu duluan?

   Banyak hal yang telah kulakukan untuk buatku lupa. Sangat banyak, tapi ketika hujan mengetuk tanah, dia juga datang mengetuk pikiranku. Mengetukku untuk merindu, mengetukku untuk semakin membenci. Ini tak mudah bukan? Aku berharap aku bisa membencimu tanpa merindukanmu. Andai aku bisa. Aku akan bahagia.

   Ini lucu, aku bertahan pada sesuatu yang sama sekali belum pasti, aku menunggu sesuatu yang tak nyata bagiku. Bodoh. Saya berharap ini akan semakin jelas, tak seabu-abu ini.Aku berharap dapat memilih satu jalan, membencimu, atau tetap percaya pada kata kita.

   Kau tahu ini semakin gelap dan jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar