Minggu, 04 Mei 2014

Halaman terbelakang.

          Halaman terbelakang.

          Mata ini selalu saja punya cara menatapnya lamat. Meskipun dari jarak yang jauh. Matanya lebih sering terlihat sendu, auranya berbeda. Ada sesuatu yang membuatku betah menatapnya, sekedar menyenangkan pupilku. Pupil? kurasa, hati. Hatiku. Aku tak pernah berani menatapmu secara langsung, apalagi dengan bertegur sapa denganmu. Sungguh, aku lumpuh melakukannya. Toh, tulisan ini kubuat dengan malu-malu. Kubuat di hari kesekian atas rindu tak mencuri pandang atas rautnya.

          Hidungnya bangir. Berbeda denganku. Dia selalu terlihat hebat bagiku, beberapa jenak aku selalu menatap gambar wajahnya di media sosial. Menyenangkan bukan? Aku dapat menatapnya tanpa canggung dan batasan waktu. Tenang saja, aku bukan tipe wanita berlebihan yang menyimpan wajahmu di Handphoneku. Aku tak ingin merasa bosan menatapmu.

           Oh, bagaimana mungkin aku bisa menulis ini? Bagaimana mungkin aku bisa menyiarkan tulisan ini?

          Aku mulai menyenangimu saat menyadari wajah dan paras, serta tingkahmu mirip dengan seseorang. Seseorang yang kukenal, dan pernah menjadi bagian dari diriku.

          Izinkan tulisan ini menjadi bagian paling terakhir dalam buku catatan matematikaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar