Minggu, 04 Mei 2014

Terbit, Cernak ke 6 "Barbie"

Terbit, Makassar
Harian Fajar
Sahabat Anak
 


Barbie
Oleh : Airly Latifah

          Amanda menyisir rambut pirang boneka Barbienya. Dengan wajah sumbringan dalam hati Amanda mengagumi kecantikan boneka di dalam pelukannya. Oh, andai Amanda bisa secantik boneka dalam genggamannya itu.

          Amanda seorang putri kecil cantik yang memiliki rambut ikal yang terjuntai cantik. Amanda selalu berharap dirinya bisa secantik boneka Barbie. Sejak usia Amanda menginjak tujuh tahun Amanda selaalu berangan-angan menjadi seorang Barbie dunia nyata.

         Setiap kali ke Mall, Amanda selalu meminta Ibu dan Ayah membelikannya aksesoris yang cukup banyak. Hal itu Amanda lakukan agar dirinya bisa terlihat seperti Barbie. Obsesi Amanda untuk menjadi Barbie semakin lama semakin besar.

          “Bunda, lihat deh ada orang yang operasi supaya tubuhnya, wajahnya, kulitnya sangat mirip dengan Barbie.” cerita Amanda pada sang Bunda yang sedari tadi sibuk menata meja makan.

          “Untuk operasi seperti itu biayanya sangat mahal. Dan, risiko kegagalannya juga tinggi.” jawab bunda singkat.

           “Tapi, perempuan itu berhasil menjalani operasinya. Dan, dia terlihat sangat mirip dengan Barbie. Amanda jadi cemburu, Bunda!” Bunda hanya menengok sebentar. Belum ada reaksi apapun untuk memberi tanggapan atas ungkapan Amanda.

          “Bunda, Apakah Amanda bisa menjadi Barbie?”

         “Amanda, bisa kamu ambilkan Bunda beberapa Barbie kamu? Ada yang ingin Bunda perlihatkan padamu.”

          Beberapa menit kemudian Amanda dengan langkahnya yang anggun. Yang dibuat seperti langkah Barbie datang dengan memeluk tiga buah boneka Barbie di tangannya.

          “Jika Bunda ditanyai, Apakah Bunda ingin menjadi Barbie atau tidak. Menurut Amanda, Bunda akan menjawab apa?”

          “Bunda akan menjawab, Iya” jawab Amanda polos.

          “Tidak, Bunda tidak ingin menjadi Barbie. Tapi, sebenarnya Barbie yang ingin menjadi Bunda.” jawab Bunda dengan senyum yang tulus. Dan, seketika dahi Amanda berkerut.

           “Lihat, semua barbie dalam genggaman Amanda pasti pakai Make Up. Sedangkan Bunda, tanpa Make Up pun sudah terlihat cantik. Bunda tak perlu berusaha meniru Barbie yang hanya bisa diam melongo terduduk di lemari hias. Bunda bisa menjadi Bunda yang pandai memasak, yang di sayangi Ayah, yang di butuhkan Amanda.” lanjut Bunda.

          “Tapi, Barbie itu sangat cantik, Bunda!” sanggah Amanda.

          “Ini tentang rasa syukur Amanda. Amanda tidak harus menjadi orang lain. Tak harus menjadi Barbie. Cukup menjadi Amandanya Bunda. Amanda yang sangat cantik tanpa Make Up. Allah akan melipat gandakan semua hal yang Amanda syukuri. Dan, jika Amanda ingin menjadi Barbie, itu berarti Amanda bukan orang yang bersyukur.”

          “Bunda? Jadi, sebenarnya Barbie yang ingin menjadi Amanda. Hanya saja, Amanda tidak menyadari itu.” Bunda hanya terdiam dan mengangguk sebentar. “Bunda, Amanda percaya, kalo Amanda lebih cantik dari pada Barbie.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar