Senin, 16 Juni 2014

Telah terbit, Sesapan Terakhir





Di terbitkan harian Fajar
KeKER
Sabtu, 07 Juni 2014






Sesapan Terakhir
Oleh : Airly Latifah

     Rindu. Selalu ada waktu untuk rindu. Selalu menyelinap. Selalu pandai meracik cerita. Kapanpun. Dimanapun. Hanya saja tak ada yang pernah tahu bagaimana rindu selalu cerdas menggelitik senja.

     Kusesap kopi hitam buatan Ibu, sambil menatap malas koran di pangkuanku. Tak ada berita yang terlihat menyenangkan. Bagiku, tulisan yang penuh dengan basa-basi. Tak penting untukku.

     “Bapak punya kabar baik untukmu!” suara bapak terdengar dari balik pintu. Terdengar lebih baik dari hari kemarin.

     “Apa itu, Pak?” jawabku seraya menolehkan pandangan.

     “Anak teman bapak ada yang memantapkan hati padamu.”

      Aku tak mampu bergeming. Hanya riuh tiupan angin yang terdengar. Sesekali selembar koran terangkat-angkat diterpa angin. Bapak duduk menatapku layu, sepertinya juga tak selera membaca koran yang sedari tadi kupindahtempatkan ke atas meja, karena kiranya dia berniat membaca. Tidak.

     Rupanya Bapak belum mengerti benar atas luka yang sama sekali belum kering. Luka rindu.

     Kusesap lagi. Tiap tetesan ini berharga. Kutegaskan dalam diriku. Tepat tahun, bulan, minggu, hari, detik dan sepersekian detik ini, adalah sesapan terakhirku. Aku ingin membuang candu ini bersama larik rindu akan dirimu.

***

     Neysia. Gadis berambut ikal yang selalu menyita mataku. Menyemat rindu dalam setiap rongga-rongga hatiku. Gadis itu selalu pandai membuatku candu. Candu pada setiap sesapan kopi. Dan, candu pada rindu yang menyulur tanpa henti. Meliukan aku dalam perasaan ini.

     Neysia. Gadis bermata cokelat yang meluluh lantahkan segala asa.

***

     Kembali kusesap kopiku. Menatap deru angin yang berirama melalui tumbuhan yang bergoyang. Menari bersama teriknya matahari. Membelai hati-hati yang terluka.

     Neysia.

     Sore tadi aku dan Ayah datang melamarmu. Kupikir ini adalah hari yang paling sempurna untuk menjemputmu. Membayangkanmu mengangguk mantap, mengiakan lamaranku. Bersedia menemaniku menata masa depan.

     Aku tahu perasaan kita sama. Tapi, tidak dengan jalan pikiran kita.

     Kau menolaknya. Tegas. Ayah menatapku kuyu. Orangtuamu juga tertunduk dengan rasa bersalah. Kau sendiri tidak bergeming. Kau menolakku tanpa alasan yang benar-benar pasti.

     Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.

     Malam ini. Kuhabiskan tujuh gelas kopi dengan puluhan sesapan. Aku tak ingin mata ini terlelap. Aku tak ingin memimpikanmu. Aku tak ingin kau menyentuh kepalaku.

***

     Tak ada kopi lagi, Neysia. Aku berhenti akan canduku. Aku berhenti menolak bayangmu. Semakin aku menolaknya, kau semakin terlihat nyata. Aku berhenti. Ini sesapan terakhir, Neysia.

     Kemarin aku bertemu orangtuamu. Aku menanyai tentangmu. Tapi, mereka tidak bergeming. Tak pernah. Hanya bungkam yang kudapati. Dan, kau semakin nyata dalam mimpiku.

     Rindu ini selalu tersemat. Selalu pandai meracik cerita. Kapanpun. Dimanapun. Hanya saja tak ada yang pernah tahu bagaimana rindu selalu pandai menyeduhkan luka.

***

     “Kau tak seharusnya bersama seseorang yang jantungnya tidak berfungsi baik. Di surga akan kutemani kau dalam setiap sesapan!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar