Senin, 30 Juni 2014

Petasan Amal

Petasan Amal
Oleh : Airly Latifah



          Tania sangat bahagia siang tadi, seluruh uang belanjanya yang berkisar ratusan ribu hadiah dari orangtuanya karena mendapat peringkat pertama, ia belanjai habis dengan petasan.

          Tania akan menghabiskan awal Ramadhan besok malam bersama sahabat baiknya, Rika. Itu akan menjadi Malam Awal Ramadhan yang sangat menyenangkan bagi keduanya. Akan sangat banyak “Duaarr.. Duaaar..” yang mereka dengar, dan keindahan letupan itu langsung dari tangan mungil keduanya.

          “Assalamu alaikum. Tante ada Rika?” tanya Tania dari ujung telephone kepada Ibu Rika.

          “Waalaikum Salam, Tania cantik. Rikanya ada, Sayang. Hanya saja dia demam. Tak bisa bermain. Tapi, Tania bisa menjenguknya. Tante akan siapkan banyak kue untuk Tania.” jawab Ibu Rika dengan senang hati.

          “Tania mau menggenguk.. ehh. Menjenguk Rika, Tante!” usai selesai menelepon, Tania langsung berpamitan dengan Bunda dan berangkat menjenguk Rika yang rumahnya hanya beberapa blok dari rumah Tania.

***

          Tania merupakan gadis yang cantik, cerdas dan serba memiliki. Hidupnya bahagia dengan kedua orangtua lengkap, sehingga kadang kala Tania bersikap boros, sama seperti tadi, ketika ia dengan mudahnya menghabiskan uang belanjanya untuk hal yang tidak terlalu berguna.

          Sedangkan, Rika. Sahabat Tania, hanya perempuan cantik, di keluarga sederhana, ayah Rika telah tiada. Menjadikan sosok Rika yang hanya berusia dua tahun lebih tua dari Tania, sudah mampu bersikap lebih dewasa dari usianya. Kerasnya kehidupan yang dialami Rika membuatnya tumbuh menjadi gadis kecil yang kuat dan peka sosial.

***

          “Rika, becok kita main petasyan, yah? Tania simpan di rumahnya Rika saja. Tania takut ketahuan Bunda.” rengek Tania pada Rika.

          “Petasan, Tania! Bukan petasyan.” Rika tertawa kecil, lalu melanjutkan kalimatnya, “Ia, simpan di rumah Rika saja.”

           Setelah beberapa menit, Tania akhirnya meminta izin untuk pulang, mengingat sebentar lagi akan memasuki jadwal Sholat Azhar.

          “Rika, apa kamu benar-benar akan bermain petasan itu? Meledakkan uang itu ke langit?” tanya Ibu, pada Rika yang masih terbaring di tempat tidur.

          “Tentu tidak, Ibu!”

***

          Rika menarik tangan Tania, ini malam awal Ramadhan. Dan, Tania sudah siap meledakkan petasan. “Maafkan aku Tania, semua petasanmu telah kujual.”Tania terpelonjak kaget. Wajahnya merah padam, tak menyangka sahabatnya bersikap demikian.

          “Uangnya saya belikan makanan, Tania. Tahukah kamu, dua tahun yang lalu, di awal Ramadhan yang sama. Rika ada di situ, di bawah emperan toko. Melihat jutaan petasan meledak-ledak di langit. Sedangkan dari satu petasan itu mampu memberi makan Rika, dan adik Risa. Dan jika ada dua petasan, Itu mampu memberi makan, Rika, Adik Risa, dan Ibu Rika.

           “Dulu, Rika tak seberuntung Tania, Rika selalu kelaparan, selalu berharap orang-orang tidak membuang uang demi petasan. Setidaknya berbaik hati berbagi dengan kami. Apakah kamu mengerti kenapa Rika menjualnya?”

          Tania tersenyum simpul, “Ayo, bagi makanan ini untuk.. teman mereka butuh.” Jawab Tania dengan kalimat yang berantakan. Sepertinya, rasa haru membuatnya tak mampu mengeluarkan kata-kata secara sempurna. Rasa kecewanya tergantikan sudah oleh kebaikan.

         Sungguh, Ramadhan selalu penuh berkah! Bahkan dari sudut terkecil dari kebiasaan kita. Ramadhan selalu mendatangkan kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar