Sabtu, 19 Juli 2014

Andin



Andin
Oleh : Airly Latifah

          Semuanya telah siap. Sungguh sempurna, ada banyak lilin yang sudah siap dinyalakan. Ada jutaan lampu taman yang sudah tersusun rapi. Beberapa balon dan sebuah surat cinta sudah tersimpan rapi di pojok taman.

          Ini akan menjadi hari yang sempurna menggenapi kebahagiaan Andin. Wanita itu tak henti-hentinya tersenyum kecil membayangkan apa yang akan terjadi sebentar malam. Membayangkan bagaimana raut muka kekasihnya yang berbinar-binar mendapati semua hadiah ini. Semua kejutan yang indah ini.

          Andin tersipu sebentar, sesekali melirik jam di tangannya. Dari perhitungannya. Sekitar satu jam lagi acara kejutan ini dimulai. Lelakinya akan datang menemuinya, menepuk bahunya, menatap kagum segala persiapan yang ia rencanakan sendirian.

          Andin...
          Kau membayangkan satu kecupan hangat di dahimu. Membayangkan lelakinya akan mengungkapkan syair-syair indah tentang bagaimana bahagianya dia, tentang mereka. Tentang semua kisah indah yang mereka telah lewati.

          Tentang hubungan mereka yang telah genap delapan tahun.

           Wajah lelakinya tak pernah lepas, senyum lelakinya yang begitu lepas dengan lesung pipit di kanan. Kecerdasan lelaki itu, keleluasaannya bermain musik. Ahh! Andin tak akan pernah bisa melepaskan lelaki itu. Andin telah jatuh cinta ratusan kali pada lelaki yang sama.

           Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Sejam yang lalu harusnya lelaki itu sudah datang atau menepuk bahu Andin, harusnya lelaki itu sudah menatap semua keindahan ini. Menatap lilin-lilin yang menyala sepanjang jalan, melihat tarian lampu taman yang berganti-ganti warna di bawah pepohonan. Melihat puluhan balon yang ada di pojok taman yang setia menemani surat cinta Andin.

           Sedangkan Andin masih setia disana, duduk menatap layu kakinya yang mulai diganggu serangga.

***

           Ahh, Andin.. Kau masih ada disana. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Kau dengan setia menunggu lelakimu. Lilin-lilinmu sudah mati di menit kesekian jam delapan. Kulitmu mulai digigiti serangga.

          “Aku mencarimu. Ibu dan Ayah kebingungan mencarimu.” Kakakmu ada di sampingmu berbicara dengan sangat lembut. Takut-takut melukai hatimu yang rapuh.

           Sedangkan kepalamu masih sibuk berfikir. Andin, kau terus mencarikan alasan keterlambatan kekasihmu. Macet? Ditilang polisi? Atau ketiduran? Sampai detik ini belum ada alasan yang cukup untuk menyakinkanmu.

          “Dia tidak akan datang, Andin! Sekali pun kursi-kursi ini telah berkarat! Lelaki itu tidak akan datang!” suara kakakmu terdengar lagi Andin, tapi kau tetap menutup hatimu untuk mendengarkannya.

          “Andin dengarkan kakak! Lelaki itu tidak akan datang! Dia telah pergi Andin! Dua bulan yang lalu dia telah pergi!”

           Kau tetap tidak mendengarkan kakakmu, Andin! Ah, kau benar-benar keras kepala, kau terlalu sibuk mencarikan lelakimu alasan mengapa malam ini dia tak datang. Tak datang di acara kejutan delapan tahun hubungan kalian.

           Ah, Andin! Kakakmu benar, lelaki itu telah pergi. Lelakimu.. Lelaki kesayanganmu telah pergi karena kecelakaan mobil yang menggilas habis tubuhnya. Dan, kau terlalu keras kepala untuk percaya hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar