Rabu, 23 Juli 2014

Bisik Lirih



Aku membaca banyak sekali cerita belakangan ini.
Bukan karena aku kebetulan menemukannya berlalu di sosial mediaku. Tidak, memang aku sangat suka membacanya.
Suka mendengar kisah cinta yang hebat dan luar biasa, kisah yang menginspirasi.
Dan, kadangkala aku berharap hal itu terjadi pada kita.
Pada kehidupan kita, pada hati dan kepala yang sama-sama teguh menjaga perasaan dan saling memantaskan diri.
Pada semua keteguhan yang selama ini disembunyikan entah dimana.

Aku cemburu sekali pada perasaan-perasaan di setiap cerita cinta itu.
Perasaan yang begitu teguh tanpa rasa ragu.
Meluap bagai airmancur yang sangat indah.
Membuat seluruh mata terbelalak kagum.
Melawan grafitasi, untuk menunjukkan cinta kasih.

Aku selalu cemburu melihat Ayah dan Ibu yang begitu setia saling mendampingi.
Mereka tua bersama, merawatku bersama.
Kuharap kita mampu melakukan hal yang lebih baik.

Aku selalu cemburu pada bumi yang begitu setia pada orbit.
Sama sekali tak pernah bergerak sepersekian senti pun untuk meninggalkannya.
Meski ada jutaan keindahan membentang di angkasa, tetapi bumi masih lebih setia kepada orbit.

Aku juga cemburu pada Ying dan Yang.
Perbedaan tak membuat mereka saling membelakangi.
Perbedaan tak membuat mereka saling meninggalkan.
Tapi perbedaan yang membuat mereka membentuk sebuah lingkaran, yang tidak memiliki sudut atau akhir.

Adakah langit meneduhkan langkahmu?
Adakah malam tak mampu menghangatkanmu?
Adakah perasaan yang lebih besar dari yang kumiliki untukmu?

Maaf, aku tak mampu menjadi wanita didalam cerita cinta itu.
Aku tak mampu berteriak memanggil namamu dengan sangat lantang.
Aku tak mampu memamerkan isi hatiku pada dunia.
Cintaku, terlalu rahasia untuk dunia.
Cintaku, terlalu tersembunyi untuk dunia.

Cinta akan tetap menjadi cinta, sekalipun ia bersembunyi, bukan?
Aku memang takjub kepada semua cerita cinta itu.
Tetapi sungguh....
Aku menunggu kehendak Allah, aku menunggu Tuhanku membalikkan hatimu untuk serius kepadaku.
Aku menunggu waktu yang Tuhanku telah tuliskan untuk kita.
Jikalau memang kita tidak dituliskan untuk bersama.
Dengan segala rasa terhormat, aku bersyukur pernah mencintaimu seperti wanita kebanyakan.
Aku bersyukur merasakan cinta ini.

 Ku tak akan memaksakan kita tuk berjodoh, jikalau memang kita tidak berjodoh.
Jikalau kita berjodoh, Alhamdulillah.
Jikalau tidak, Alhamdulillah.
Karena, apapun skenario Tuhanku itulah yang terbaik, bagiku, bagimu, bagi dunia.

Lantas? Bagaimana denganmu?
Bahagiakah kau pernah mencintaiku?
Atau kau menuliskan itu sebagai kesalahan terbesarmu?
Karena, bagiku mencintaimu itu sebahagia hujan mengguyur daratan yang kering kerontang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar