Minggu, 13 Juli 2014

Halaman terbelakang (yang kesekian)



Tak pernah aku mencintai sesetia dan semenyakitkan ini.
Tak pernah sedalam dan setulus ini.
Tak pernah seberharap ini.
Tak pernah sekuat ini.
Kau datang mengetuknya lalu pergi.
Kau tertawa seolah semuanya tidak pernah terjadi.
Kau bertingkah seolah kita tak pernah ada apa-apa.

Laki-laki berlesung pipit.
Senyummu yang pernah kukenal dulu kini hanya mimpi.

Tak pernah kugantungkan harapan dan mimpi setinggi ini, tak pernah kupegang perasaan sedalam ini. Terlalu kuat hingga bertahun tahun telah berlalu, waktu tak mampu mengikisnya
Panas tak mampu menguapkannya, dan dingin tak mampu membekukannya.

Perasaan ini lebih kokoh dari pada baja, bahkan mampu menghantam karang hingga hancur berkeping-keping.
Perasaan ini tak pernah kau ketahui. Hanya aku, dan Tuhanku.
Kelak jika kita dipertemukan di dunia, semoga Tuhanku tetap menutup perasaan ini darimu.
Kecuali di Syurga nanti, kuizinkan hatiku dipenuhi olehmu. Kuizinkan hatiku menari-nari memanggil namamu.

Kau hanya akan selalu menjadi halaman belakang.
Berwujudkan coret-coretan tak penting yang sebenarnya menjadi lukisan terbesar dalam kehidupan sebuah buku. Apalah arti sebuah buku tanpa halaman terbelakang? Hampa? Kosong? Bahkan sering kali terlalu kaku.
Itulah aku tanpamu.

Terlalu tinggi aku menapaki sebuah perasaan dan pengharapan.
Dan, ternyata jatuh itu menyakitkan sekali.
Kau terlalu pandai meracik perasaan yang berubah menjadi candu. Mengalahkan kekuatan Nikotin. Kau terlalu hebat, terlalu luar biasa untuk sosokku yang biasa saja.

Sungguh, tulisan-tulisan ini hanya akan menjadi halaman terbelakang.
Tersembunyi.
Terlalu takut untuk diketahui.
Tapi terlalu transparan untuk orang-orang yang merasakan hal yang sama denganku.

Kau bukanlah cakaran (Seperti yang kebanyakan di buku Matematika)
Ataukah kisah cinta monyet yang banyak ditulikan di buku-buku.
Kau sejarah.
Sejarah yang selalu kusembunyikan.
Sejarah kehidupanku yang hanya aku dan Allah, Tuhanku yang tahu.

Sungguh, aku takut sekali kau membaca ini.
Aku takut...
Aku takut kau mampu membacaku..

Pernah aku sangat berharap kau datang. Menatap langsung ke mataku. Berkata dengan sangat lantang agar aku membuang kisah ini. Menghapusmu dari kepala dan pengharapanku.
Tapi, tak ada, yang kudapati hanyalah tatapan tak mengenal.
Itu sangat menyakitkan.

Laki-laki berlesung pipit.
Datanglah temui aku, katakan bahwa aku harus melupakanmu. Buat perasaan yang lebih kokoh dari pada baja, yang bahkan mampu menghantam karang hingga hancur berkeping-keping ini terluka.
Siram luka itu dengan air garam.
Bunuh perasaan ini.

Sungguh, izinkan perasaan ini melukai dirinya sendiri.
Izinkan perasaan ini mati.
Agar kau terobek dari halaman terbelakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar