Minggu, 20 Juli 2014

Kenapa menulis?



Pertanyaan ini keluar begitu saja, ketika sempat bercerita sebentar dengan seseorang. Seseorang yang ternyata membaca tulisan saya. Dia mengatakan banyak hal kepada saya.
Sungguh, saya senang mendengarnya. Tidak, jangan berfikir dia memuji diri ini, salah!
Salah sekali!
Dia hanya bercerita sesuatu yang membuatku senang.


Kembali kepada pertanyaan pertama, mengapa saya menulis?
Kesukaan ini sudah datang sejak saya masih belia, sejak saya mengenal majalah Bobo.
Begitu senangnya tiap dibelikan majalah itu, bermimpi memiliki satu lemari yang dipenuhi dengan majalah kanak-kanak itu. Walau nyatanya sampai setua ini saya hanya memiliki kurang lebih duapuluh eksemplar majalah Bobo dengan edisi yang terlompat-lompat.
Kecintaan saya mulai terpupuk di sana, hingga saya mulai mengenal puisi, mulai menuliskannya.

Saat itu usia saya masih berbilang kecil. Esde mungkin. Salah seorang guru memberi pekerjaan rumah untuk mengkliping beberapa puisi. Hampir semua dalam kelas mengkliping puisi milik orang lain, hanya saya sendiri yang memiliki puisi karyaku sendiri.
Bangganya saya bukan main.
Tapi, tertepis begitu saja.
"Bohong! Pasti! Tidak mungkin kau yang membuat!" kata-kata itu keluar dari bibir teman-teman saya, merasuki kepala guru saya.
Saya berhenti menulis puisi masa itu. Hanya ada sekitar tujuh puisi, saya tidak ingat betul bagaimana isinya, yang saya ingat hanya ada salah satu dari puisi itu berjudul 'Petani'

Kesenangan saya selanjutnya ada pada cerpen, saya menulis cerpen, begitu singkat, singkat sekali, mungkin hanya dua bait, dan saya katakan itu cerpen.
Belum juga saya mengetiknya di komputer, sudah tak terhitung orang yang menertawakan. Saya berhenti saat itu.

Entah, apa yang menghipnotis saya, dulu semasa masuk SMP dengan tegas saya katakan ingin kuliah jurusan "Sastra Indonesia". Dan dengan tegas pula orangtua saya menolak, dengan alasan mau jadi apa?
Jikalau kedua kakak saya bercita-cita menjadi dokter, saya bercita-cita menjadi Sastrawan?
Itu lucu sekali bagi mereka.

Lalu apa saya berhenti?
Tidak! Sungguh, aku sendiri tak tahu kenapa aku tak berhenti menulis.

Sejak tubuh ini sering merengek meminta susu formula, hati dan kepala ini lebih sering terdiam dan memedam, lebih sering tutup mulut seolah tak adaa yang terjadi. Semua itu, semua kegelisahan itu menuntut untuk buncah.
Tapi kepada siapa? Kepada dua ekor kucing domestik yang kupelihara masa itu?
Kepada adik?
Duhai, sedih sekali aku karena tak memiliki adik.

Belum lagi Ibu yang begitu rajin membuang kucing domestik kesayanganku, Ibu bilang kucing itu nakal, suka mencuri ikan. Tapi, sadarkah Ibu aku dicakar berapa kali sampai mendapatkan kepercayaan kucing itu?
Lalu lari kemana semua kesedihan itu?
Lari kemana luka yang kusimpan saat harus dipindah sekolahkan saat Esde, saat berumur kelas tiga. Meninggalkan teman-teman yang mengajariku menyeberang dengan brutal, dengan menutup mata lalu membiarkan tubuh kecil ini lari membelah jalanan yang dilalui kendaraan beroda?
Kemana kutaruh memory akan teman-teman yang menemaniku bermain hujan-hujan sebelum pulang sekolah?
Kemana kusembunyikan ingatan akan teman-teman yang menemaniku membeli burung seharga 500 rupiah dan mati karena dimakan kucing peliharaan tante?

Ah, semua luka itu, menetes di jariku, tumpah ruah dalam tulisanku.
Kenapa aku menulis? Karena aku terlalu bisu untuk berbicara, terlalu bisu untuk mengeluarkan keluh kesahku.
Lalu? Mengapa aku tetap menulis saat ini?

Karena aku mencintainya.
Aku gelisah tidak menulis.
Seindah bagaimana aku menuliskan kegelisahanku akan rinduku padanya.
Seindah menuangkan luka-lukaku atas kehidupan ini.
Seindah mencoret-coret kesakitanku di sekolah.
Seindah meneteskan rasa cintaku dalam bait tulisan ini.


Aku tidak akan berhenti menulis.
Inilah aku dan kecintaanku pada menulis, dan ini berlaku pada hoby yang lainnya.
Ini berlaku dengan kegemaran dan kebiasaan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar