Senin, 21 Juli 2014

Kepada Beburung Penyampai Rindu


Waktu telah melahirkan miliaran pasang sayap baru. Melahirkan mata mengkilat bagai tatapan elang, atau bahkan elang itu sendiri.
Waktu pula telah mematahkan miliaran pasang sayang yang telah lelah beterbangan. Sayap-sayap yang telah lelah membelah langit, telah lelah menembus jutaan kilometer dengan sayap yang tidak lebih besar dari awan.
Waktu juga telah meredupkan mata-mata berkilat itu.

Beburung masih beterbangan membelah langit, mengirimkan jutaan rindu yang tak mampu disampaikan melalui langit-langit lidah, bahkan di zaman secangih ini, rasa canggung itu tak mampu dibunuh oleh pesan kilat.
Beburung sudahkah kau sampaikan rinduku? Sudahkah kau tuliskan riwayat rindu ini di langit?

Aku tak memiliki kisah cinta yang hebat, tak di cintai lelaki setampan Nabi Yusuf, tak di cintai senekat romeo and juliet, tidak pula mendapatkan cinta sesetia cinta Sinta pada Rama.
Tapi izinkan aku menuliskan cinta-cinta itu melalui jemariku yang lemah, jemari yang mampu patah dalam satu hentakan, jemari yang mampu kelelahan menuliskan luapan magma rindu yang tak terbendung.
Aku bukanlah wanita secantik kepakan burung-burung yang baru menetas dari cangkangnya.
Aku tidak pula lebih indah dari pada genangan air yang menghijau.
Aku tidak pula selembut sutera yang menyelimuti hati ibuku ketika ia di pembaringannya.
Aku tidak pula sekaya ilmuan yang menemukan benda paling dibutuhkan di dunia.
Aku tidaklah hebat.
Aku hanyalah seorang wanita yang berharap beburung menyampaikan salam rinduku pada lelaki itu.

Lelaki yang menghiasi malamku.
Menaburi mataku dengan tetesan airmata rindu.
Lelaki yang benar-benar terpatri indah dalam hatiku.
Lelaki yang sudah kuusir jutaan kali dalam hatiku, tapi berhasil hadir triliunan kali di hatiku.

Sungguh, aku tak pernah tahu bahwa rasa ini akan semenyesakkan ini.
Beburung, sudahkah kau sampaikan rinduku?
Rindu dari wanita yang sangat biasa ini?
Rindu dari wanita yang hanya mampu memintamu menyampaikan pesan, yang tak mampu ia ungkapkan sendiri, sementara hatinya meluap-luapkan magma rindu akan lelaki itu.

Beburung, sudahkah kau makan bebijian yang banyak?
Karena kuyakin kau akan perlu sangat banyak tenaga untuk menyampaikan rindu ini.
Kau akan sama lelahnya dengan hati ini, kau akan sama capainya dengan hati ini.

Beburung... Malam ini sudahkah kau tidur dengan nyenyak?
Sudahkah kau mimpikan semuanya malam ini.
Karena esok pagi kau lagi-lagi harus menyampaikan rinduku.
Kau lagi-lagi harus lelah dan capai dengan rindu ini.
Bergelut dengan kepengecutanku yang tak mampu menyuarakan rinduku secara terang.

Beburung..
Rindu ini benar-benar tersembunyi. Kusimpan begitu dalam untuk lelaki itu, kusimpan dalam malam-malam panjangku yang tak kugunakan bertasbih.
Beburung..
Apakah kau pernah merasakan rindu yang sama?
Apakah kau juga sepengecut ini dalam menyampaikan rindumu?
Jikalau iya, lantas pada siapa kau minta rindumu disampaikan?
Pada angin-angin yang membelai tubuh sosok yang kau rindui? Begitu?

Ah, beburung..
Aku merindukannya.
Malam ini aku menulis rindu ini untuknya, lagi-lagi agar kau mampu meyampaikannya dalam kicauanmu.
Hafalkan dan rapalkan baik-baik kata-kata rindu ini untuknya.
Ingatkan bahwa aku belum berhenti merindu.

Beburung..
Kicaukan rasa rindu ini dalam hatinya.
Serukan namaku agar sampailah aku dalam mimpi-mimpinya.
Temui dia di alam mimpinya, Beburung! Sampaikan kata rindu yang sama saat dia  terlelap.
Agar dia tahu mimpi atau terbangunnya dia, dia tetap memiliki rindu yang sama dariku.

Beburung..
Sampaikan padanya rasa rindu ini.
Rasa cinta ini.
Karena tak perlu bibirku yang menyampaikannya langsung.
Kau ataukah aku yang menyampaikannya, tak mengurangi rasa ini. Tak mengurangi kuatnya rindu ini.
Kau ataukah aku yang menyampaikan ini, tak merubah nama perasaan ini.

Wahai, beburung..
Tidurlah, simpan tenagamu untuk besok.
Untuk rindu yang lebih meluap-luap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar