Kamis, 10 Juli 2014

Kerajaan Molymika


Kerajaan Molymika
Oleh: Airly Latifah


          Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang besarnya dua kali benua Australia. Kerjaan Molymika. Kerajaan dimana seluruh penduduknya berubah menjadi patung batu manusia. Sering terdengar isak tangis, tawa, bahkan jeritan dari patung tersebut. Kerajaan yang membuat para pengunjungnya ketakutan akan Naga-naga berkepala dua yang menjaga Sumur Biru.

         Konon, kerajaan Molymika adalah kerajaan paling makmur diseluruh jagad raya, kerajaan paling adil dan bijaksana. Tapi, selalu saja ada rasa iri hati dari kebahagiaan dan kehebatan kerajaan Molymika. Hingga memancing para penyihir untuk turun tangan.

         Kerajaan Molymika didirikan oleh Raja yang sangat tampan dan Ratu yang sangat cantik, kecantikannya mampu menenangkan hati yang gunda gulana, penuh iri hati, kecewa, kecuali dendam. Tetapi, para penyihir yang jahat selalu iri akan kecantikan Ratu. Segala penyakit hati para penyihir yang telah mendarah daging, tak mampu ditaklukan oleh cahaya kecantikan Ratu. Karena Iri hati para penyihir telah berubah menjadi dendam.

          Sampai pada, salah satu penyihir yang paling kuat dan paling iri hati. Membacakan sebuah mantra. Mantra yang akan membekukan seluruh penduduk kerajaan Molymika menjadi batu manusia, termasuk Raja dan Ratu. Dan, sihir ini akan bekerja apabila anak pertama Raja dan Ratu lahir.

         Kurang dari beberapa tahun, anak pertama Raja dan Ratu lahir, dan itu sudah cukup untuk membekukan  seluruh penduduk Kerajaan Molymika. Sihir akan musnah hanya apabila, ada seorang yang mampu menemukan dan meminumkan anak pertama Raja dan Ratu air Sumur Biru. Sumur yang dijaga oleh ratusan naga berkepala dua yang tak terlihat.

          Ratusan tahun berlalu, pangeran, raja, pendekar, pengawal sampai tukang kebun. Semua anggota kerajaan atau rakyat biasa ikut mencari Sumur biru. Tapi, tak satu pun yang mampu menemukannya.

         Hingga pada tahun ke Tujuh ratus satu. Ada seorang pendekar gagah berani dengan pedang maha tajam memasuki pekarangan kerajaan Molymika, berjalan dengan sangat santai. Satu langkah demi satu langkah, menuju ruang bawah tanah kerajaan, lalu mendapati naga-naga sedang tertidur. Dan dengan pedangnya yang hanya ada satu. Pendekar yang gagah itu menebas hingga habis naga berkepala dua yang tertidur lelap. Ratusan naga itu tanpa tersisa.

         “Duhai, Anakku! Bagaimana bisa kau taklukkan mantra penyihir yang telah menjara kami selama tujuhratus tahun?” tanya Baginda Raja.

         “Bukan aku yang menolongmu, Duhai paduka Raja!” jawab sang Pendekar.

         “Lalu siapa?” tanya Baginda Raja kebingungan.

         “Tuhanku, Baginda! Aku tak akan mampu melihat Ratusan Naga berkepala dua itu, jika Tuhanku tak meridhoiku. Aku tak terluka sedikitpun karena aku memintah pertolongannya. Berdo’a meminta pertolongannya. Dan, Tuhanku, mengutusku untuk memberitahukan ke-ESAan-Nya pada seluruh kerajaan Molymika.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar