Jumat, 25 Juli 2014

Perasaan ini Brutal Sekali



Kupikir akut telah berhenti padamu.
Telah mundur jutaan petak.
Tapi, aku sangat salah.
Nyatanya, ketika melihat mata itu, aku menyadari bahwa aku mundur di tempat.
Aku tak bergerak satu petak pun.

Kupikir aku telah melupakan banyak hal tentangmu.
Tetapi, nyatanyaanya hanya dengan melihat punggungmu dari balik kursiku.
aku mampu memutar ulang semua kenangan itu tanpa terlewatkan satu titik sekali pun.

Kupikir ini hanyalah mimpi burukku, bahwa aku kembali menginginkanmu.
Tetapi, nyatanya dalam keadaan aku terbangun maupun tertidur kau terlihat sama nyata.
Aku bahkan belum sedikit pun melupakanmu.
Melupakan tingkahmu yang selalu mengejekku.
Melupakan tawa yang sangat manis milikmu.
Melupakan tulisan tanganmu.
Melupakan semua sikapmu dulu kepadaku.
Aku belum mundur, aku masih setia dalam petakku.
Aku masih menunggumu kembali.
Aku masih sesetia dalam luka ini.
Sungguh, aku masih setia.

Pernahkah kau sadari?
Bahwa ada wanita sesetia ini padamu?
Ada wanita setanggung ini mencintaimu?
Ada wanita sesabar ini menunggumu?

Ya Allah, aku hanyalah wanita biasa sekali.
Tapi adakah wanita lain yang mampu se'takgentar' ini?

Aku masih lebih nyaman melihat bahumu.
Masih sangat takut melihat lamat kedalam matamu.
Masih takut menemukan kemungkinan lain.
Kemungkinan bahwa kau tak sesetia luka ini.
Kemungkinan bahwa ada seseorang yang merangkulmu erat sekali.

Ingin sekali aku pergi ke Jepang, sungguh bukan karena ingin melihat langsung Gunung Fuji.
Melainkan, ingin bertemu dengan sosok animasi Doraemon.
Ingin sekali kupinjam lorong waktunya.
Aku ingin mengulang waktu saat bersamamu, saat kau masih mencintaiku.
Ingin pula kupinjam selimut waktu Doraemon, agar hatimu masih sama setianya untukku.

Sungguh, aku sama setianya dengan sepasang sayap kepada burung.
Sama tak ingkarnya dengan rembulan yang selalu menganti tugas mentari.
Sama setianya dengan perangko yang menemani sebuah amplop melintasi nusantara.
Walau kutahu, sayap ini bisa saja terluka demi melindungi sang burung.
Rembulan tak lebih indah dari pada mentari, tak lebih terang dari mentari.
Dan, kutahu bahwa perangko tak pernah lebih penting dari amplop itu sendiri.

Aku ada disini, setia mengawasi.
Setia menjadi tempatmu berpulang, meski akan terus kau tinggalkan ketika mendapatkan naungan baru.
Aku masih begini.
Meski seluruh dusta ini kuucapkan.
Meski kata-kata itu kukeluarkan.
Sungguh, aku hanya takut-takut kau tahu bahwa aku sesetia ini.
Bahwa aku, sebodoh ini bertahan, untukmu.

Aku, sesetia detak pada sebuah jantung.
Aku akan ikut mati ketika jantung mati.
Tapi, tak pernah kutemui orang-orang menjual detak, semuanya menjual jantung.
Aku tak pernah berharga.
Tapi, begitu berarti.
Aku tak pernah kau lihat, tapi selalu kau rasakan.
Meski dalam detak debaranmu bertemu dengan wanita lain.
Aku masih sesetia ini.
Berdetak demi kehidupanmu, meski kehidupanmu untuk wanita lain.
Aku masih sesetia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar