Kamis, 17 Juli 2014

Sepucuk Surat



Assalamu Alaikum..

Apa kabarmu? Bagaimana kesehatanmu di bulan Ramadhan ini? Apa kau menikmati puasamu? Bagaimana dengan keluargamu yang lainnya?
Kuharap kalian semua baik-baik saja.

Sudah sangat lama kita tidak bertukar cerita, saling berlomba memamerkan rasa cinta kita masing-masing, tapi sungguh kurasa bukan saat yang tepat untuk kita saling menukar isi hati. Karena aku sangat takut mendengar hal yang tak ingin kudengar.

Sekian lama aku menarik ulur hati ini, sungguh tak pernah kutemukan tempat senyaman bersamamu, seindah dalam rangkulanmu, semenggemaskan dikerjai olehmu.
Tuhanku pasti tak marah jikalau aku berkata jujur, karena sesungguhnya aku rindu.
Aku rindu tawa itu, aku rindu wajah menyebalkan itu, aku rindu senyum manis itu.

Sudah sangat lama rasanya kita tak saling menatap lama-lama. Hanya menatapmu dengan perasaan canggung. Malu-malu jikalau kau tahu aku menyimpan rindu.
Malu-malu jikalau kau tahu bibir ini terkunci untuk berbicara denganmu, sangat takut suara yang terdengar malah serak.

Kemarin aku hanya melihat bahumu, dari kursiku. Tapi, kurasa akan lebih menyenangkan, dari pada melihat tatapan matamu, takut kau mampu membaca isi kepalaku, takut kau mampu tahu kalau hanya kau yang kupikirkan menjelang tidur.
Ah, aku takut sekali kau tahu.

Sejujurnya pertemuan kita terlalu singkat, tak cukup membuang rasa yang membeludakiku tiap hari. Tapi, kuharap jangan. Karena pertemuan sesingkat itu saja sudah memprasastikanmu di kepalaku, bagaimana jikalau pertemuan itu lebih lama dan lebih dekat.
Malam ini, aku masih terjaga. Jangan tanya kenapa, lagi-lagi karena kau menjara isi kepalaku. Lagi-lagi kau membuatku tergelitik untuk membuang perasaan ini kedalam bentuk tulisan.

Kau tahu di malam ini, kuyakin Tuhanku sedang melihatku, bahkan dia tahu persis apa yang sedang kutulis ini. Dia tahu aku sedang berusa berkata jujur. Apa Tuhanku akan marah karena aku telah menulis ini?
Apa Tuhanku akan marah karena dalam beberapa menit ini kepalaku terbagi untukmu?
Ya, Allah sungguh. Aku mampu melukiskan rasa cintaku kepada-Mu secara terang. Tetapi padanya? Aku hanya mampu menulis ini untuknya.

Tuhanku tahu aku tengah jatuh cinta, Tuhanku tahu aku tengah merindu.
Tuhanku tahu bahwa kaulah orangnya.
Ya, Allah.. Engkau tahu isi hatiku izinkan aku menyimpan sedikit hatiku untuk mencintainya.

Ahh.. Entah ini sudah surat keberapa yang kutuliskan untukmu. Tapi, sungguh.. Aku rindu.

Sekian surat ini, maaf aku tak bisa menuliskan kepada siapa. Tak mampu menuliskan untuk siapa kutujukan surat ini; biarlah waktu yang bermain, biarlah waktu yang menunjukkan kepada siapa surat ini.

Ya, Allah.. Aku mencintainya. Kuharap kelak rasa cinta ini bisa atas dasar Engkau, atas dasar sunnah Rasulullah.

Sekian surat ini..
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Dari sudut rindu yang menjamur



Airly Latifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar