Selasa, 08 Juli 2014

Telah terbit Negeri Cartacela (Minggu, 06 Juli 2014)

Terbit di Harian Fajar
Sahabat Anak (Cernak/Dongeng)
Minggu, 06 Juli 2014


          Negeri cartacela, sebuah negeri nun jauh di sana, yang tersembunyi di balik sela-sela hutan belantara. Terkenal karena kesejahteraan yang lahir dari Pohon Cartacela, pemberi kedamaian di setiap hati penduduk negeri.

          Di sini, tak ada yang pernah tahu persis bagaimana Pohon Cartacela tumbuh, dari bibit apa pohon itu tumbuh. Tak ada. Yang mereka ketahui pohon inilah yang menaungi seluruh kehidupan penduduk desa.

          Tapi, dongeng pencurian bibit Cartacela itu tak pernah hilang dari telinga penduduk, dongeng yang tak utuh bahkan ditambah-dan dikurangi seenak mereka. Hingga, sampailah cerita ini pada cucu-cicit mereka. Membuat penduduk Negeri Cartacela membenci tentangga sebelahnya. Penduduk Negeri Mawar.

          “Tirta, jangalah kau selalu menyeberangi perbatasan, jikalau ada penduduk lain yang mengetahuinya. Habislah, kita akan mati dengan rasa malu.” gerutu Ibu pada anak lelakinya.

          “Tidak, Bu! Apa salahnya? Mereka semua baik.” Jawab Tirta tak peduli.

          “Apa mereka tahu kau dari Negeri Cartacela? Pabila mereka mengetahuinya. Akan dicaci-maki kau.” Tirta memang selalu menyeberangi perbatasan. Sesekali mencuri pakaian para penduduk Mawar untuk menyamar. Sekadar bertandang menengok wanita idamannya.

           “Ada apa denganmu, Nak? Ibu sudah terlalu sering menceritakan dongeng leluhur. Dongeng yang dihafal betul para penduduk, mereka sangat membenci dan berani membunuh penduduk Cartacela yang menentang aturan, Sayang!” Ibu terduduk lesu. Tak kuasa akan sikap anaknya yang keras kepala. Bagaimana mungkin dia begitu berkeras hati.

          Mengingat Ayahnya dibunuh karena menyeberangi perbatasan. Terlalu silau akan rusa yang ingin ia buruh. Sayang, semua penduduk hapal betul siapa Ayah, hingga tak sulit mengenali siapa yang menyeberangi perbatasan.

          Hanya beberapa langkah Ayah menyeberangi perbatasan, tapi itu cukup untuk membunuhnya.

          Berbeda dengan Tirta, tak ada penduduk yang begitu hapal wajahnya. Tapi hukum itu akan tetap berlaku. Barang siapa yang menyeberangi pembatasan, dia akan dibunuh.

          Dahulu, sebuah dongeng tentang negeri Mawar dan Negeri Cartacela menjadi awal terciptanya aturan itu, dongeng itu menjelaskan bahwa dahulu, kedua pangeran negeri bersahabat. Hingga pada suatu waktu, di tengah malam bulan sabit, Pangeran Negeri Mawar mencuri bibit Cartacela. Bibit yang sangat cantik, berkilau, dan tak ada yang tahu bagaimana rupa bibit itu.

          Para penduduk Negeri Mawar tidak terima akan tuduhan yang ditunjukkan pada Pangeran mereka. Dan pada malam bulan sabit itu pertumpahan darah antarnegeri terjadi.

***

         Dan malam ini, tepat seratus tahun berlalu, di malam bulan sabit yang sama. Kenyataan itu harus diterima, Tirta didapati penduduk menyeberangi perbatasan. Di kesekian kali keberhasilannya, inilah saat ia gagal melakukannya. Penduduk mengenali pakaian sorban yang ia kenakan, pakaian milik mendiang Ayah dulu.

          Pembunuhan yang maha kejam itu terjadi, puluhan anak panah menembus kulit dan jantung Tirta. Sedangkan Ibu? Bagaimana dengan Ibu? Ibu menangis sepanjang malam. Luka itu tak akan pernah kering, bahkan jutaan tahun pun tak akan sanggup menghapus luka Ibu, luka rindu.

          Beliau semakin kurus akan luka hatinya, akan kedua orang yang ia cintai. Kedua orang yang pergi dengan cara yang begitu menyakitkan. Ibu, ikut pergi termakan luka hati. Termakan pahitnya rongga-rongga kehidupan.

***

          Secercah cahaya menyenteri Kedua negeri. Membuat seluruh mata silau akan hebatnya cahaya itu. Doa dan harapan melayang di atmosfer bumi.

          Duhai, betapa mereka begitu hebat menambah dan mengurangi sebuah Cerita lalu mendongengkannya. Karena cerita ini sebernarnya begitu menyilaukan, begitu hebat. Begitu menyentuh.

          Benar kedua pangeran bersahabat. Tapi, tak ada pencurian. Malam itu, Pangeran dari Negeri Mawar menyembunyikan sebuah hadiah untuk Adik Pangeran Cartacela. Tapi, begitu malu ia mengakui perasaannya pada putri itu. Hingga terus menyembunyikan berlian yang ia beli dari menyeberangi lautan maha luas. Pangeran Cartacela yang begitu penasaran akan hadiah itu membuat permainan. Barang siapa yang menang, maka ia berhak melihat hadiah itu.

          Kemenangan jatuh di tangan Pangeran Cartacela. Tapi, pangeran negeri Mawar tak sedikit pun berniat memperlihatkannya. Takut akan hal-hal tak nyata.

          Hingga, Pangeran Cartacela mencoba mencari bantuan dari para Pengawal dengan berkata “Pangeran dari Negeri Mawar mencuri sesuatu berharga Milik Negeri Cartacela.” Para pengawal menghadang, hadiah berupa berlian itu terkubur di taman kerajan. Tapi, pengawal salah menafsirkan perintah. Sikap melawan Pangeran dari negeri Mawar membuatnya harus kehilangan nyawa di tangan para pengawal. Tak mengerti bahwa ini hanyalah permainan.

          Malam itu, di tengah sorotan malam bulan sabit. Putri menangis, terduduk piluh. Berteriak dan berlari berusaha mencari pangeran dari negeri Mawar. Tapi, takdir dengan begitu indah membuat sang Putri duduk tersungkur di atas berlian yang di kubur sang pangeran. Bulir air matanya, menjadi kekuatan untuk menumbuhkan pohon Cartacela.

          Tak ada yang tahu cerita mengharukan ini, bahkan tak ada yang mencoba mencari tahu. Sungguh, fitnah dunia selalu menyakitkan. Tapi, tak ada yang berani membenarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar