Minggu, 10 Agustus 2014

Aku Wanita


Bagaimana sebuah perasaan yang indah sekali kini berubah menjadi luka yang menganga.
Membiarkan tubuhnya saling memakan dan menggrogoti.
Membiarkan tiap bagian saling membunuh.
Hingga luka yang tadinya nyaris tak terlihat kini menganga sangat besar.
Lantas kenapa kita malah membiarkan luka itu ada.
Yah, itulah seni dari mencintai.
Luka itu tak akan pernah tertinggal dalam setiap sejarah mencintai.

Sama denganku. Ketika semua itu tidak lagi untukku.
Semua kenangan itu tidak lagi menjadi bagian darimu.
Diambil dengan cara yang sama jahatnya.

Jangan! Jangan pernah kau berfikir bisa meracuni kepalaku dengan perasaan itu.
Karena kau hanya datang untuk menanam luka yang sama.
Menanam penyakit yang sama.
Menanam benih luka yang sama.
Tidak. Kau hanya tak pernah mengerti kenapa.

Aku, wanita.
Aku perasa sekali.
Dan, aku terluka sekali.

Jangan, jangan kau pikir mampu menyentuh hatiku.
Aku sudah terluka sekali.
Wanita itu, wanita cantik itu. Bawalah ia enyah dari wajahku. Melangkahlah kalian berdua tanpa sekali pun menengok kepadaku.
Itu akan membuatku merasa lebih baik.
Aku akan tetap berada di tempatku, menunggu sosok lain.
Sosok yang mampu membalut lukaku.
Tanpa pernah menyakitiku dengan wanita lain.
Tanpa pernah, memamerkan kemesraannya dengan wanita lain.
Tanpa pernah membandingkanku dengan wanita lain.

Sosok lelaki yang mencintaiku, dan melihatku paling lebih diantara seluruh wanita.
Tidak seperti caramu melihatku.
Luka ini masih menganga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar