Minggu, 24 Agustus 2014

Catatan yang Tak Akan Ingin Kau Baca

 
Aku melihatmu samar-samar sekali. Antara kau terlalu nyata di mimpiku atau kau terlalu mimpi di nyataku.
Aku melihatmu dalam bayangan yang kubuat sendiri, tentang dirimu yang masih ada di sisiku dengan begitu setia. Dengan begitu sabar, dengan begitu lekat. Namun, nyatanya. Kau hanya selalu menjadi bayangan.
 
Aku hanya mampu melihatmu dari titik ini. Titik terjauh untuk menjaga perasaanku. Titik tersabar untuk tetap mencintaimu, terlalu takut jika kau tahu kenyataan bahwa aku masih setia mencintai dalam hariku. Kau tahu, aku melihatmu bagaikan sebuah cahaya putih yang cerah sekali. Namun begitu tinggi. Sekuat apapun aku mengepakkan harapanku untuk mengapaimu, pada saat itu aku pula yang kelelahan. Aku terlalu takut cahayamu yang sangat terang itu malah membakar atau membunuhku. 
Aku terlalu takut mengetahui, kau tak pernah berharap aku menyukaimu.
Siluetmu masih begitu nyata dimataku. Meski pun waktu telah mengikis pertemuan kita beberapa tahun belakangan ini. Tapi, aku masih sangat sabar dengan perasaanku.
Karena aku silau dengan keterlaluan.
 
Dalam mimpiku, selalu aku menemuimu dalam bentukmu yang lain. Dalam bentuk pria gagah yang hendak sekedar membalas sapaanku. Hingga membalas rinduku. Tetapi, mimpi itu terlalu singkat untuk membuatku terbuai. Kepakan harapanku lagi-lagi terhenti. Sama terhentinya saat aku tahu kau terlalu mimpi untuk hidup dalam nyataku.

Jangan tanya pada langit seberapa cinta aku padamu. Karena langit malam, siang, subuh, ataukah sore sudah bosan melihatku mengukir namamu di depan matanya. Sama bosannya melihat binar mataku yang silau akan dirimu. Apalagi, ketika aku melihatmu waktu itu. Beberapa bulan yang lalu, langit seolah tahu bahwa mataku sudah terlalu silau akan dirimu untuk jatuh cinta pada siluet senja.
Langit kadangkala menyerah memamerkan keindahannya padaku.

Kau tahu, aku punya beburung penyampai rindu. Jangan tanya apa kabar mereka. Satu persatu dari mereka turut lelah. Lelah berusaha menyampaikan perasaan rindu dan sayangku padamu. Lelah pula dengan semua sikap acuhmu. Beburung penyampai rinduku tak sedikit dari mereka terluka karena menopang beban rindu yang sangat berat. Beban yang mereka ambil sedikit agar hatiku tidak terlalu sesak akan dirimu.

Malam ini, aku melingkarkan jutaan pengharapan untukmu. Aku tidak pernah berdoa agar kau menyukaiku. Tidak. Aku hanya berdo'a agar semua kebaikan menyertaimu. 
Karena aku hanya bagian dari masa lalumu, yang tak akan pernah penting untuk kau baca kembali.
Karena aku hanya bagian dari cerita lama, yang masih setia menatap ke belakang.
Aku ini bodoh sekali, bukan? 
Biarlah. 
Selama mencintaimu tidak melanggar aturan Agama dan Kewarganegaraan, hal ini masih menjadi sesuatu yang sehat untukku. 

Aku.. 
Aku sudah cukup lama tidak menulis, dan ketahuilah. Kau selalu menjadi alasan paling menyenangkan untukku kembali menulis.
Kau selalu menjadi alasan yang menggebu untukku menulis.
Karena, perasaanku padamu, selalu menjadi titik sasaran untuk kuceritakan.

Kau.
Cerita tentang kau.
Terlalu indah untuk kusembunyikan.
Dan, terlalu menakutkan untuk membuat pembaca tahu siapa dirimu.
Bukan. bukan karena aku takut pembacaku mengenalmu.
Hanya saja, aku takut kau membaca ini. Dan, tahu bahwa semua tulisan ini kutujukan untukmu.

Ah, kau akan selalu menjadi alasan yang indah untukku tetap menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar