Minggu, 31 Agustus 2014

Dermaga yang Kehilangan Kapal (Cerpen)


Dermaga yang Kehilangan Kapal
Oleh : Airly Latifah

          Cinta. Seperti sebuah air yang mengisi ruang terdasar sebuah gelas. Melengkapi arti kehidupan sebuah gelas. Memenuhi sebuah kekosongan dengan basahnya kebahagiaan. Sebuah perasaan yang membawa kita untuk hidup dalam rona merah muda. Melahirkan jutaan do’a-do’a pengharapan penuh asa.

          Melahirkan perasaan yang berjuta warna. Tanpa peduli sesakit apa luka yang selalu datang menyertai cinta.

          Ranumnya senja juga menjadi alasan paling kokoh untuk menghadirkan rindu. Perasaan yang selalu mendatangkan rasa sepi meski di tengah keramaian. Perasaan yang selalu membuat kita merasa senyap di tengah riuh. Perasaan yang hadir lebih mencandukan dari pada Nikotin.

         “Kau adalah wanita paling sempurna yang pernah kutemui di muka bumi ini. Wanita paling indah seumur hidupku.” Juang mengutarakan perasaannya pada wanita berdarah Bugis-Makassar dihadapannya.

         “Apakah kalimat itu dusta?” tanya Naming kepada lelakinya.

         “Sungguh, kata-kata ini keluar dari lubuk hatiku. Dan, tak pernah aku sejujur ini.” balas juang dengan mata yang tak kalah meyakinkan.

         Naming, wanita berkulit putih dengan suara kecil nan merdu ini selalu menjadi wanita terkasih Juang. Wanita pertama yang membuat sosok sekeras juang luluh lantah. Sosok yang selalu menjadi gelas untuk cairan kasih sayang Juang. Sampai-sampai Naming bersedia meninggalkan keluarganya demi hidup bersama Juang.

         Juang tak akan pernah mampu melunasi uang Panai yang diajukan pihak keluarga Naming. Bahkan, setengahnya pun tidak. Hingga jalan salah itu pun dihalalkan demi memiliki Naming.

         Dan wanita itu tak sekalipun merasa berat hati.

         “Apakah hal yang paling kau cintai dariku?” tanya Naming untuk membuat dirinya semakin yakin.


        “Aku sangat mengagumi keindahan tubuhmu. Maka jagalah. Aku ingin, lima bulan kemudian, saat kita bertemu lagi. Kau masih memiliki kemolekan ini.” Lanjut Juang.

        Maka, hingga saat itu. Kata-kata Juang tertancap di bagian paling abadi di kepalanya.
         Di pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Sulawesi Selatan. Wanita itu melepas kekasihnya pergi, untuk berlayar. Mengizinkan kekasihnya pergi meninggalkan dirinya dan anak dalam kandungannya. Karena lelakinya akan kembali, tepat satu bulan sebelum ia melahirkan anakn mereka. Membawakan berjuta-juta uang untuk membiayai persalinannya. Untuk kehidupan yang lebih baik.

         Juang. Berlayar meninggalkan wanita itu.

***


         Naming, perasaan cintamu sekian lama, kian membesar. Seiring dengan pertumbuhan janin di dalam kandunganmu. Perasaan cinta dan sayangmu kian meluap-luap kepada ayah dari anakmu. Tunggulah. Kau hanya perlu beberapa bulan lagi. Hanya tersisa tiga bulan dari sekarang lelakimu akan pulang.

         Menjadi sosok yang akan paling rajin menciumi perutmu. Sosok yang akan paling setia menemani malam-malam panjangmu. Bahkan, kepergian Juang seolah membuatmu lupa apa itu ngidam.

         Tenanglah, beberapa bulan lagi. Lelaki itu akan menghujanimu dengan kasih sayang. Menemanimu dan anak dalam kandunganmu. Membuat semua penantian ini tak ada apa-apanya dengan kebahagiaanmu esok.

***


         Naming, kau kini hamil hamil tujuh bulan. Tapi lekuk tubuhmu masih bisa dikatakan cantik untuk sosok Ibu Hamil. Kau menunaikan janjimu pada Juang, kau menunaikan keinginan Juang yang ingin melihatmu tetap cantik meskipun perutmu sebuncit saat ini. Kau menjaga porsi makanmu. Kau berusaha menghindari jenis-jenis makanan yang membuat kulitmu berjerawat.

         Kau sangat mencintai Juang.

         Tapi..

         Tapi.. Naming, sudah dua hari ini. Semestinya dua hari yang lalu Juang pulang. Juang kembali ke pelabuhan Soekarno-Hatta untuk menyandarkan perahu besarnya, bersama awak kapal yang lain. Tapi lelakimu belum juga pulang.

***


         Hari ini bibirmu sumbringan Naming. Kapal sudah bersandar di Dermaga. Kapal yang membawa Juang-mu pergi meninggalkanmu. Satu persatu awak kapal dan penumpang turun. Beberapa dari mereka ada yang langsung pulang dan ada yang juga menunggu kerabat untuk dijemput. Tapi, hingga berjam-jam sudah. Kau tetap tak menemukan lelakimu.

         Dimana Juang?

         Salah satu awak kapal mengenalimu. Dia tersenyum sangat manis. Terlihat lelaki bertubuh keras dan gelap itu berpikir sebentar. Lalu dia memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu padamu. Sebuah kalimat yang membuatmu gelagapan. Seperti ikan yang dibuang ke daratan. Membuat semua kebahagiaan yang kau bayangkan sirna tanpa tertinggal sedikit cahaya pun.
***



         “Juang. Kami tidak pulang bersamanya. Dia jatuh hati pada seorang wanita di pelabuhan Tanjung Perak. Juang memutuskan untuk menetap disana. Maafkan aku harus jujur!” Kau adalah wanita paling sempurna yang pernah kutemui di muka bumi ini. Wanita paling indah seumur hidupku. Sekelebat kata-kata Juang singgah di kepalamu. Kata-kata yang nyatanya hanyalah bualan. Dan, kau mempercayainya.

         Sungguh, Juang kini meninggalkanmu.

         Tidak, kejadian itu tidak membuatmu terluka sedikit pun, kenyataannya kau masih mencintai Juang. Naming, kau menjaga dan membesarkan anakmu dengan sangat sabar dan sendirian. Seorang bidan di puskesmas berbaik hati membantumu melahirkan tanpa harus kau bayar. Sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu berlangsung. Jangan tanya betapa hancurnya hatimu. Kau hancur sekali.

         Dan ketika anak perempuanmu, bertanya tentang ayahnya. Kau hanya mampu berkata, “Ayahmu tengah berlayar. Entah kapan dia pulang.” Kau tak pernah marah atas penghianatan Juang. Melihat anakmu yang cantik sekali membuat rasa sakit hatimu memudar. Kau tak akan pernah mendapatkan harta seindah Anak perempuanmu jika tak ada Juang.

         Kau tetap mencintai Juang. Kau menularkan perasaan yang sama kepada anakmu. Tak pernah kau peduli apa yang telah Juang lakukan kepada kalian berdua. Itulah cinta. Kau sebut semua ini dengan cinta.

         Juang telah mengisi kekosongan ruangmu dengan cairan penuh kasih sayang dan cinta. Dan kau tak pernah membiarkan cairan itu menguap. Kau menjaganya dan bahkan membagikan cairan itu kepada Anak perempuanmu.

         Dan, Naming! Kau meninggal dalam keadaan mencintai Juang, tak pernah peduli Juang melakukan hal yang sama atau tidak.

         Tak ada yang pernah tahu bagaimana keadaan sosok Juang. Tak ada yang pernah tahu. Bahkan awak kapal lain juga tak ada yang pernah bertemu lagi dengan Juang. Tak perduli sudah berapa kali mereka menyandarkan kapal di Dermaga Tanjung Perak. Mereka tak pernah bertemu dengan Juang. Tapi, Anak perempuan Naming percaya ayahnya akan datang.

         Setelah kepergian Naming, Anak perempuannya resmi berrumah tinggal di Dermaga. Menunggu dengan setia barangkali ayahnya akan pulang.
***


         Juang.. terimalah kenyataanmu. Balasan atas apa yang kau lakukan. Tak ada seorangpun yang pernah melihatmu lagi. Tak ada orang yang akan mengenalimu lagi. Ratapilah jasadmu yang terbagi-bagi, terkoyak dan berantakan. Karena wanita yang kau temui waktu itu. Hanya membutuhkan organ dalammu untuk dijual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar