Minggu, 10 Agustus 2014

In Another Life



Aku masih meringkuk dengan kesendirianku.
Sesekali tersenyum kecut saat dijodoh-jodohkan.
Atau malah tertawa pahit ketika seseorang bilang ia mencintaiku.
Mereka benar, aku sendirian.
Aku membutuhkan seorang teman.
Tetapi, mereka tak akan pernah mengerti bahwa sosok itu kau, dan tak seorang pun dari mereka yang bisa mengantikan.

Tawa manis itu, tawa yang lebih manis dari pada permen kapas yang selalu menemani siang hariku di pameran masa kecil, atau lebih manis dari senyum dokter yang akan memeriksa gigiku yang akan tanggal. Senyuman itu terpatri begitu kuat, tergambar di setiap batu kepalaku. Batu yang tak akan mampu dikikis oleh rerumus soal-soal matematika atau fisika yang sangat kau gilai. Atau dengan alat-alat musik yang selalu kau mainkan. Tak peduli betapa sering alat itu kau pegang tiap harinya, tak peduli betapa rajin kau bersihkan dan mainkan. Hatiku, lebih merasakan keberadaanmu dari pada benda itu. Hatiku lebih hidup karenamu dari pada alat-alat musik itu.

Apakah pernah kau berpikir untuk menengok masa lalu. Melihat wajahku yang pucat saat kau kerjai atau saat kau tak ajak bicara, atau mungkin saat kau dijodoh-jodohkan dengan wanita lain. Wajahku masam sekali. Pernahkah kau memikirkan masa itu sesering aku menengok bayanganmu. Sesering aku melirik beberapa baris tulisanmu saat aku lelah menulis. Kau pernah menulis beberapa baris di buku-ku, bukan? Terkadang kau malah menulis namaku, dan menulis mantra cintamu. Ah, manis sekali.

Apakah kau pernah mengingat masa dimana kau malu-malu mengenggam tanganku yang kedinginan. Mengenggam dengan erat saat aku mulai bosan belajar, atau saat aku terlalu sibuk dengan ponselku. Dan, aku yang hanya terdiam membeku saat kau malah asyik meninggalkanku dengan rutinitasmu, dengan setia menunggumu kembali menatapku. Sedangkan, kau? Kau melakukan jutaan cara untuk membuat mataku tidak lari darimu.

Aku ada disini, masih sama setianya menatapmu. Merasakan kehadiranmu yang mungkin semu. Hanya bentuk menghibur diri bahwa kau masih menuntut perasaan yang sama.
Mungkin saja, di alam nyata kau malah sedang sibuk meraih banyak hal, meraih dan mendekati wanita pilihanmu. Meninggalkan memori paling indah untukku. Meletakkan kenangan itu di gudang paling berdebu dalam otakmu.
Sungguh, aku masih disini, sibuk membayangkan tentangmu.

Jika memang tidak di dunia ini.
Kuharap dikehidupan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar