Kamis, 28 Agustus 2014

Pertanyaan Tengah Malam


Sudah pukul duabelas malam. Tepat pukul dua belas malam. Hanya lebih beberapa detik, kurang lebih duapuluh detik. Aku masih ada dalam bilik hatiku. Sesekali menengok keadaan dunia nyata.
Malam ini aku kembali terjara akan dirimu. Akan bayangan tentangmu yang samar-samar dan setia mengangguku. Walaupun, kenyataannya kau tak pernah peduli padaku.

Aku kembali menengok bilik hatiku. Bertanya apa maunya.
Sebagian dari bilik hatiku menginginkanmu. Sebagian lagi ingin mengosongkan namamu.
Sayangnya, lebih banyak bagian yang ingin mempertahankanmu. Aku kembali ke ruang renunganku, hanya berjarak beberapa langkah dari bilik hatiku.
Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?
Bagaimana bisa aku mengosongkanmu dari bilik hatiku?
Mungkin, karena selama ini kau selalu saja acuh kepadaku. Tak pernah perduli aku ada dibelakangmu atau tidak. Tak pernah ingin tahu bagaimana isi dari hatiku.
 Tapi, aku sama tidak pedulinya denganmu.
Sama tidak pedulinya atas kau yang tak melihat dan merasakanku.
Sama tidak pedulinya, dengan kenyataan yang menganga untuk menyedotku kedalam luka penantian tak pasti.
Sebenarnya, penantian ini selalu pasti.
Bahwa, kau tak pernah peduli untuk sekedar melihatku.
Tapi, lagi-lagi, aku sama tidak pedulinya denganmu.

Kau tahu, aku melalui hariku tanpa lepas dari namamu, tanpa lepas menceritakan tentangmu, tanpa lepas dari bayanganmu yang samar. Kemarin malam kau datang menemuiku di mimpi. Lagi-lagi menghadirkan kebahagiaan semu dalam dekapanmu.
Lagi-lagi membahagiakanku dalam semu yang nyatanya menyakitkan sekali.
Tapi, lagi-lagi aku tak perduli.

Malam boleh saja, ada pada puncaknya.
Hingga, pertanyaan baru kembali muncul, lantas sampai kapan puncak perasaanku?
Akankah berakhir sama menyakitkan dengan dunia nyata atau sama membahagiakan se-semu di mimpiku.
Kau memang tak pernah peduli.
Kau tak pernah ingin tahu bagaimana menjadi aku.
Sosok yang menggilaimu setengah mati.

Lagi-lagi kau tak peduli.
Dan, aku lebih tidak perduli.

Ah, yah...
Bisakah aku meminjam waktumu sebentar saja.
Hanya beberapa puluh menit. Aku tak ingin membuang waktumu terlalu banyak untuk sesuatu yang tak kau perdulikan.
Aku hanya ingin menatap matamu, mengatakan apa isi dari kepala dan hatiku. Menyampaikan kemelut apa yang terjadi di bilik hatiku tiap-tiap harinya.
Dan, kuharap jangan pernah kau merespon aku. Karena, aku tak mau tahu apa jawabanmu tentang perasaanku. Aku tak mau tersakiti oleh kata-katamu.
Setidaknya izinkan aku mengatakan aku mencintaimu.
Izinkan aku melangkahkan kakiku menemuimu, dan meghabiskan beberapa puluh detik saja untuk bersamamu. Merasakan semunya kebahagiaan dunia nyata.
Meskipun diakhir aku akan tahu kau tidak perduli.
Tanpa kau harus keluar dar bibirmu. Sorot matamu akan bercerita.

Ah, malam ini. Sudah tengah malam.
Dan, aku tak perduli masih memikirkanmu di tengah malam ini.

Selamat tidur.
Kumpulkan semangatmu untuk esok yang lebih bertenaga.
Aku..
Aku mengagumimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar