Jumat, 26 September 2014

Bunda



Bunda, sudah beberapa hari ini aku tak pernah melihat wajahmu. Tak pernah mendapati wajahmu dengan senyum di kedua lesungpipitmu. Sudah beberapa hari pula tak mencicipi masakanmu.
Beberapa dari mereka bilang kau telah pergi, ada juga yang tersenyum sembari berkata kau hanya sedang beristirahat, walaupun itu dalam waktu yang lama.
Tapi, jika benar kau pergi. Lantas kau pergi kemana, Bunda? Telah sejauh mana kakimu melangkah, dan butuh berapa lamakah aku untuk mampu menggapai tempatmu?
Dan, jikalau kau benar tengah beristirahat, lantas kembali aku akan tanyakan dimana.

Bunda, jangan tanya kenapa aku sangat ingin bertemu denganmu, karena hanya kata rindu yang mampu mewakili segalanya.
Bunda, sebentar lagi usia anakmu ini beranjak tujuhbelas tahun. Kata orang itu adalah patokan dari kedewasaanku, tapi jauh sebelum aku berusia tujuhbelas tahun, kau telah membentukku menjadi karakter yang berbeda, karakter yang sebenarnya lebih dewasa dari pada usia anakmu saat ini.
Kau mengajariku banyak sekali. Tapi, ilmu itu tak pernah cukup, Bunda! Selalu saja kurang bagiku. Aku ingin terus diajari olehmu.

Bunda, sudah beberapa hari ini aku tak pernah mendengar tawamu. Bahkan sekarang aku rindu sekali dimarahi olehmu. Andaikan suara amarah itu bisa terulang kembali, sekali pun itu seribu kali, aku tetap rindu mendengarnya. Bunda, sungguh aku rindu sekali.
Bukannya kau selalu marah mendapati kamarku kotor?
Marah mendapati kucingku bau pesing?
Marah mendapati aku yang terlambat makan atau mandi?
Atau aku yang memilih tidur dibandingkan makan saat aku lelah dengan aktivitas sekolahku?
Bunda, wanita sempurna macam apa kau? Bahkan jika aku diizinkan bertemu bidadari, aku lebih baik diizinkan menatap wajahmu, bertemu dengan wajah yang selama ini memancarkan kasih sayang lebih dari enambelas tahun usia ini. Binar kasih sayang yang tak pernah memudar.

Bunda, tadi pagi aku menuju pembaringanmu.
Tempat peristirahatanmu, seperti yang mereka katakan tempat itu adalah tempatmu saat ini. Rumahmu saat ini.
Tapi, ketika aku ke sana, tak sedetik pun aku melihatmu. Tak sedetik pun aku mendengar deru suaramu.
Apa benar itu adalah rumahmu? Tapi, kenapa aku tak melihatmu di sana.
Bunda, apakah mereka berbohong?
Ataukah aku yang salah alamat?
Tapi, tatapan mereka sangat yakin, mereka sangat yakin ini adalah tempat pembaringanmu.

Bunda, pagi ini aku menuju pembaringanmu, berniat bertemu denganmu.
Berniat melepas rindu padamu.
Tapi, yang kutemui hanya kayu yang bertuliskan namamu.
Dan, kata mereka, hanya Yasin-lah yang mampu menyampaikan salam rinduku padamu.

Bunda, apakah mereka berbohong?
Kuyakin bunda pasti bisa mendengarku, bisa mendengar deru rinduku.
Bunda..
Sejauh mana langkahmu saat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar