Sabtu, 20 September 2014

Kepada Kasturi yang Kembali Ke Syurga

Telah berpulang Ibunda, Hj. Hasmin Hakim Saka. Seorang wanita yang kebaikannya sama dengan Bunga Kasturi.
Bunda..
Kepergiaanmu merajut banyak sekali luka dan tangisan di langit kota.
Juga mengoyak asa yang selama ini ada.
Kepergiaanmu membawa luka terdalam untukku.
Bunda, Usiaku belum tujuhbelas tahun. Dan, kau pergi lebihkurang dua bulan sebelum usiaku menginjak tujuhbelas tahun. Kau menuntutku dewasa lebih cepat. Kau menuntutku untuk berpikir lebih hebat.
Jangan tanya apakah aku siap dengan ini Bunda. Karena sama sekali aku tak pernah berpikir kau akan pergi, yang tertanam dalam benakku adalah aku akan menemanimu di masa tua. Aku akan merawat tubuh dan kulitmu hingga keriput. Aku akan meminta cucumu untuk membuatkanmu teh hangat setiap pagi. Aku akan meminta suamiku untuk mengantarmu ke dokter memeriksakan kondisi kesehatanmu secara rutin. Aku sendiri akan lebih sering membuatkanmu jus segar.
Bunda..
Aku selalu berharap kau yang akan turun tangan langsung mengajariku bagaimana membesarkan anak-anakku. Menemaniku disetiap jeritan sakitnya melahirkan. Menemaniku terjaga merawat bayiku. Menemaniku hingga bagian paling genting dalam hidupku.
Tapi, Bunda... itu hanya kehendakku.
Rupanya Allah lebih menginginkanmu dibandingkan aku.

Bunda...
Maaf jika selama ini aku menjadi anak yang tidak patuh.
Anak yang malah bertingkah, anak yang lebih mementingkan kehidupan di luar rumah dibandingkan dirimu.
Bunda...
Adakah disana kau sama rindunya denganku?

Bunda...
Kau wanita terhebat dalam hidupku. Wanita yang tak pernah lupa untuk mengingatkanku.
Wanita paling luar biasa yang kukenal.
Wanita yang selalu menimangku dengan kasih sayang.
Bunda..
jikalau aku dihadapkan dengan Bunda-bunda lainnya. Demi Allah tak ada yang mampu mengantikanmu.
Tak ada Bunda yang lebih hebat darimu. Tak adaBunda yang lebih sempurna darimu.
Lesung pipitmu, tawamu, senyummu, caramu bercerita, candaanmu, pelukanmu, perhatianmu, bahkan aku rindu sekali dicubit olehmu.
Bunda...
Kenapa kau pergi secepat ini?

Dulu.. Aku tak sekalipun pernah terlintas akan kehilanganmu.
Tidak sama sekali. Karena aku percaya kau pasti belum puas mengajariku, belum puas membimbingku, belum puas membagi ilmumu padaku.
Bunda.. Seluruh bagian dalam diriku terluka sekali. Tercabik-cabik atas kepergianmu.
Aku ingin sekali bertemu denganmu. Menatap wajahmu, membasuh kakimu. Dan, meminum air basuhan kakimu.

Bunda..
Kuharap Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik.
Kuharap Allah mendekatkanmu dengan Fatima, Khadijah dan Maryam.

Bunda..
Benar aku terluka seklai.
Benar aku belum mampu menerima kepergianmu.
Benar aku terkoyak atas kenyataan ini.
Benar aku lumpuh akan kepergianmu.
Tapi, Bunda...
Tanganku terlalu ringkih untuk mampu menjagamu.
Dan, jemari Allah pasti mampu menjagamu miliaran kali lebih baik.

Ya, Allah...
Lindungi dan sayangi Orangtuaku sebgaiamana mereka menyayangi dan mencintaiku.
Amiinnn...

Peluk cium dari anakmu yang paling bungsu.
Segenap kasih sayang dari gadis kecil yang tak henti-hentinya kau cintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar