Jumat, 26 September 2014

Kepada Masa Lalu


Teruntuk kepada luka yang selama ini setia kurawat, kepada sakit yang setia sekali kupelihara.
Dan, kepada perasaan yang selama ini tak pernah mampu kubunuh.
Mencintaimu adalah bagian yang paling tulus dan paling sabar yang pernah kurasakan, hitungan tahun setia dalam bingkai yang selama ini kau sepelehkan. Setia dalam kepahitan yang selama ini tak pernah kau perdulikan.
Menjadi sosok yang selalu setia mengingatmu menjelang tidur, setia mengingatmu dalam lamunan, bahkan dalam detik mendebarkan.
Lebih dari tiga tahun dengan perasaan yang nyatanya tak berubah, perasaan yang nyatanya tak pernah berani berkemas meninggalkan hatiku. Menikamku dengan perasaan yang sangat menyakitkan.
Aku mendapati diriku begitu setia dengan perasaan yang nyaris membunuh.

Masa lalu, kunamai semua ini dengan masa lalu.
Masa yang setia meninggalkan jejak untukku, masa yang sebenarnya sudah sangat jauh tertinggal dibelakang, yah. Logikanya memang begitu, tapi nyatanya hatiku lebih bermain. Menanggalkan logika yang selama ini menjadi tiang.
Masa lalu, kau nyatanya hanya hidup dalam masa lalu, tapi juga terus terseret menuju masa kini. Terseret dalam detik-detik kehidupanku.
Sungguh, jangan tanya kenapa.
Jangan tanya kenapa aku melakukan ini. Karena aku sendiri tak memiliki jawaban.
Jangan tanya kenapa aku sebegini cintanya,
Karena aku sendiri tak memiliki jawaban.

Yah, kau memang begitu samar. Tapi juga kau begitu nyata dalam mimpiku, dan juga begitu mimpi di nyataku. Sungguh, seharusnya kau sudah sangat jauh kutinggalkan.
Namun, nyatanya kau tak pernah bisa kutingalkan.

Selalu aku ingin melangkah mundur meninggalkan masa lalu. Dan di saat yang sama aku kembali terjerembak ke dalam perasaanku sendiri.
"Lalui ini dengan menghadapinya, bukan dengan melupakannya."
Yah, benar. Aku telah melakukannya, aku telah mencoba membongkarnya, membuka semuanya. Menyalurkan semua kekuatanku untuk berkata jujur.
Tetapi, lagi-lagi yang kutemui adalah ketertinggalan, yang begitu hampa dan kosong.
Sungguh, aku sudah tertinggal jauh sekali ke belakang.

Aku lagi-lagi kembali setia menatapmu, setia dengan lamunan dan mimpiku akan dirimu.
Dan, lagi-lagi yang kudapati hanyalah kekosongan. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kau pedulikan, tak pernah kau hiraukan. Tak pernah menjadi penting bagimu.
Selalu begitu, berakhir dengan ketidak-adaan.

Tulisan ini menandai pergantiannya malam.
Menandai kekalutanku akan dirimu yang singgah di kepalaku setiap malam.
Menandai kesetiaanku akan dirimu bahkan di saat mata-mata lain telah tertidur.
Sungguh, aku tak pernah sesetia ini, aku tak pernah sesabar ini.
Tapi, biarlah.
Jika diacuhkan saja aku mampu sesetia ini, bagaimana jika kelak aku mendapati seseorang yang sangat peduli tentangku.
Aku tengah belajar, entah dalam proses pembelajaran ini, perasaanku masih sama setianya atau tidak.
Semuanya kukembalikan pada Allah yang menuliskan skenarionya di langit.

Sungguh, apapun yang terjadi ke depannya. Aku tak akan pernah menyesal pernah sesetia ini dengan perasaanku, pernah sesetia ini dengan keacuanmu, pernah sesabar ini.
Sungguh, Allah mencintai hambanya yang bersabar.

Perasaanku ini bukan tanda bahwa aku lemah, ataukah aku bodoh.
Hanya perlu kau tahu, bahwa perasaanku berbeda. Bahwa perasaanku tak semudah kartu remi yang di bolak balik, tak semudah panah untuk berpindah haluan.
Aku tetap bangga dengan kesetiaanku pada masa lalu, pada perasaan yang selama ini kau acuhkan.
Karena, perasaan ini tidak berlandaskan pada sesuatu hal melainkan cinta itu sendiri.

Airly Latifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar