Rabu, 24 September 2014

Tidak Normal


Bukankah langit telah menuliskan jutaan nama pasangan. Pasangan untuk cucu dan cicit Adam dan Hawa. Langit telah menajdi saksi skenario takdir. Langit telah menjadi kertas yang menadah tinta takdir.
Tuhan, izinkan aku meminjam penamu. Kau boleh menuliskan semua hal mengena takdirku, hidup, pekerjaan, kematianku. Boleh. Tapi, pinjamkan aku penamu agar aku mampu menulis namanya, menulis namanya dalam kolom jodohku. Menyanding dengan namaku.

Langit.
Kehebatan yang menaungi hati dan perasaanku, aku begitu setia menunggumu. Begitu setia dengan perasaanku yang kalang kabut atas ketidakpastian. Lantas, bagaimana mungkin perasaan ini bertahan?
Aku selalu berharap menjadi salah satu dari mereka yang tidak normal, agar aku tak jatuh cinta kepadamu.
Agar aku tak harus terjebak di dalam perasaan yang sekuat ini.
Agar aku mampu menepismu.

Langit.
Kau pernah menjadi saksi kebersamaanku dengannya, juga menjadi saksi perpisahan kami. Langit, adakah kami akan terpisah selamanya? ataukah kami akan tetap bersama?
Kau selalu menjadi alasanku untuk menatap dunia lebih baik. Menjadi alasanku menimbang semuanya dengan lebih matang. Dan, kau juga selalu menjadi alasanku untuk terluka.
Bagaikan aku semut yang berharap bermahkotakan intan berlian.

Langit.
Aku selalu berharap aku tidak normal.
Berharap menjadi bagian dari cetakan manusia yang lupa diberikan hati.
Agar aku tak merasakan pahitnya mencintai.

Langit.
Aku berharap, aku tidak normal.
Agar kau mencintai sesama jenisku. Bukan dia.
Empat tahun, dengan perasaan yang sama. Menjadikan ini perjalanan cinta yang begitu setia dan menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar