Kamis, 30 Oktober 2014

**

Bunda, hari ini ada berita duka.
Ada keluarga yang berpulang kepada Allah.
Tapi, bukan bagian itu yang memukulku.

Tapi cerita Ayah tentang seorang wanita yang mengaku sebagai sahabatmu.
"Nurdin, mana istrimu?"
Ayah tidak bergeming.
"Nurdin? Mana istrimu?"
Ayah tak berniat sedikit pun bergeming.
"Kenapa susah sekali menjawabkan?"
"Kita siapanya, kah?" akhirnya kata-kata itu keluar dari bibir Ayah. Terdengar sedikit keluh sebenarnya.
"Temannya, saya sahabatnya Nurdin! Sahabat paling dekatnya."
Ayah lagi-lagi tak sanggup mengatakan kebenaran, yah, kebenaran terkadang pahit sekali.
"Pergi ki? Kemana? Kenapa dia tidak ada disini?"
Hening.
"Ke pasar? Jemput anakmu? atau apa?"
"Sedekat apa ki sama Istriku?" tanya Ayah (lagi).
"Kenapa banyak sekali pertanyaanmu, baru kau nda mau jawab pertanyaanku?"

yah, sepenggal cerita ini mewakili semuanya Bunda.
"04 September kemarin Ibu Hasmin Pergi. Meninggal."
Tidak, jawaban ini bukan keluar dari bibir Ayah, tapi dari penonton yang sempat mengambil bagian dari percakapan Ayah dan seorang wanita yang mengaku sebagai sahabatmu, Bunda.

Bunda, pagi ini.
Teman-teman kembali mengingatkanku tentangmu.
Juga guruku sempat menanyakan siapa yang masak untukku.

Bunda, andai aku tahu berapa sisa umurku.
Sungguh, andai aku tahu.
Dan, andai umur bisa dibagi.
Akan kubagi padamu tanpa berpikir panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar