Kamis, 30 Oktober 2014

Kenapa Harus Kamu?


Di antara jutaan pasang mata.
Di antara semua tawa lepas.
Dan di antara semua senyum bahagia.
Aku memilihmu.
Memilih bertahan dan setia pada semua yang kamu miliki.

Semua yang kurasakan tiap detiknya.
Semua tarikan napas yang kupunya.
Tak pernah lepas dalam satu rasa yang kukenal dengan cinta.
Aku mengenal semua ini berjamak dengan rindu.
Aku mengenal ini dengan tiba-tiba.

Di antara jutaan hal paling indah di dunia.
Izinkan aku berdo'a untuk memilikimu sebagai bagian paling indah di hidupku.
Izinkan aku memanjatkan do'a untuk mampu terus menatapmu.
Sungguh, izinkan aku mencintaimu.

Wahai para beburung penyampai rindu.
Sudahkah kau sampaikan rinduku padanya, dari sosok pecandu rindu yang selalu merepotkanmu dengan pesan rindunya.
Pesan yang tertuju pada tempat yang sama.
Pada orang yang sama.
Meski pun dengan pesan yang semakin bertambah tiap waktunya.

Wahai beburung penyampai rindu.
Sadarkah kau betapa menggebu perasaan yang melarutkan hati ini.
Sadarkah kau akan rindu yang begitu menyiksa ini.
Sadarkah kau dengan pesan yang tak pernah mampu kusampaikan langsung.
Maafkan aku merepotkanmu lebih sering.
Tapi, sungguh. Perasaan ini mampu membunuhku.

Di antara jutaan alamat dan nama.
Beburung penyampai rinduku masih setia pada orang yang sama.
Masih setia menyampaikan pesan yang sama.
Tak akan pernah bosan.
Sama hal dengan hatiku.
Mirip halnya dengan Mentari yang tak pernah bosan menemani bumi berotasi.
Dengan rembulan yang setia bercermin di tengah kolam.

Perasaan ini kunamai cinta.
Pada sosok yang sama.
Pada tawa yang sama.
Pada pemilik senyum yang sama.
Pada semua hal yang kurindukan darinya.

Sungguh, aku ingin sekali menatapmu lebih lama.
Ingin merasakan betapa nyamannya berada di dekatmu.
Meski pun hanya dalam mimpi.
Aku tetap akan bersyukur.

Meski jutaan ombak dan luka menghantam.
Jutaan ketakutan hadir.
Dan, meski waktu menguji perasaan ini aku masih setia.
Sungguh, aku masih setia.
Setia dengan perasaan yang menggebu namun tak pernah mampu terlontarkan.

Karena aku percaya.
Tuhan akan menghadiahkan sesuatu atas kesetiaan ini.
Hadiah indah yang tak kuketahui apa.
Tapi, Aku percaya akan ke-Esaan Tuhan.

Aku mencintaimu.
Sangat mencintaimu.
Perasaan ini tak pernah berkurang sedikit pun.
Benar bukan, bahwa aku tak pernah mundur sedikit pun.
Aku setia di titik ini.
Aku mencintaimu.
Lantas, Salahkan aku?
Jawablah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar