Selasa, 21 Oktober 2014

Perkenalkan, Namaku Cinta!


Perkenalkan namaku Cinta, aku lahir dari rahim ketulusan. Lahir di masa yang paling mendebarkan dan paling runcing. Kelahiranku bersamaan dengan banyaknya luka dan perih, sungguh kelahiranku ditandai dengan sesuatu yang sangat asam.

Kelahiranku tak pernah diharapkan apalagi oleh sebuah kepalsuan, aku bagaikan racun paling abadi baginya. Tapi, hal itu tidak membuatku layu, keinginannya membinasakanku malah membuatku semakin kuat dan membuat perkembanganku semakin pesat. Meski aku tetap kalah banyak.


Namaku Cinta, aku adalah sebuah perasaan yang disimpan paling dalam, terlalu rahasia dan berharga untuk diumbar keluar, hanya saja kerahasiaan ini membuatku sering sekali dilupakan. Sungguh, aku sangat sulit didefinisikan dengan keadaan yang sangat tidak diuntungkan.
Aku, lahir dari sebuah luka, tumbuh dengan luka, tapi, aku tak pernah lahir untuk membiarkan luka menumpahi luka. Ibuku, sebuah ketulusan mengajariku bagaimana membuat cinta sesederhana bahagia tanpa luka.

Namaku Cinta, di tangan kananku menggenggam sebotol susu, di tangan kiriku mengenggam sebotol madu. Tapi, orang-orang yang buta akan melihatku seolah membawa segelas air putih. Sungguh, lebih banyak orang yang melihatku membawa segelas air putih. Karena, lagi-lagi kepalsuan membutakan mata.

Aku. Aku lahir karena sebuah pertemuan, dengan sebuah tujuan untuk terus bersamamu. Dengan sebuah perasaan yang setia pada tatapan pertama yang begitu lekat meski hanya beberapa jenak. Aku lahir dari dua tatapan mata yang saling menatap, tapi aku lebih abadi dari pada kehidupan seseorang itu sendiri.

Namaku Cinta, aku hanya mampu terlihat di balik matamu yang rabun, di balik matamu yang tidak mengenakan kacamata, di balik semua keheningan dan kesendirian yang seolah mencekik hatimu, aku hanya mampu kau lihat di saat-saat seperti itu. Sementara itu, aku hanya mampu menatapmu dari kejauhan di saat ganggang kacamata itu telah berada di tempatnya, di saat dunia bersorak membutuhkanmu.
Sungguh, aku hanya terlihat di masa-masa tersulitmu, karena aku tidak pernah menjadi penting di masa paling membahagiakan dalam kehidupanmu.

Aku selalu berdiri tepat di hadapanmu saat keduamatamu tak memakai kacamata minus, dan aku sempurna menghilang di saat kacamata itu kembali pada posisinya, di saat kau tampil bergaya dan luar biasa. Aku tetap setia, meski hanya bersembunyi di balik kehampaan.

Namaku Cinta, dan aku benar-benar lahir dari rahim ketulusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar