Minggu, 05 Oktober 2014

Rindu pada Kasturi

Bunda..
Wanita paling sempurna yang pernah menyelimutiku dengan sutera paling hangat.
Wanita yang selalu mendekapkanku dengan cinta tiada dua.
Wanita yang kasih sayangnya sangat sempurna.

Ya, Allah kau telah mengambil kembali Kasturi-Mu.
Aku percaya akan kuasa-Mu.
Aku percaya jemari-Mu lebih baik menjaganya dibandingkan kerahan seluruh tubuhku.
Aku percaya akan kasih sayang-Mu.
Akan semua rencana indah yang telah Kau tuliskan untuk Bunda.

Ya, Allah.
Engkau telah menidurkan Ibunda di pembaringannya.
Di tempat paling abadi yang tak akan pernah bisa kujangkau.
Di tempat yang bahkan bayangnya saja tak bisa kujangkau.

Ya, Allah.
Lindungi dan rahmatilah Ibunda.
Naungkan dia di tempat yang paling indah dan wangi.
Naungkan dia di sebelah sungai yang airnya bersih dan wangi sekali.
Jauhkan Bunda dari segala perkara yang tidak baik baginya.

Ya, Allah.
Hari ini lebaran pertama tanpanya, tepatnya satu bulan lebih satu hari tanpa beliau.
Sungguh, aku rindu sekali.
Tadinya, pertemuan dengan beliau hanya sebatas pintu-pintu kamar.
Sekarang?
Pertemuan dihargai dengan seisi dunia.
Sungguh, aku rindu sekali dengan Bunda.
Rindu dengan rutinitas mengecup pipinya menjelang  berangkat ke sekolah.
Rindu dengan hangatnya tangan dan wajah paniknya ketika aku terbaring tak berdaya.
Rindu dengan wajah lelah yang penuh dengan keringat.

Ya, Allah.
Aku tak pernah peduli beliau menuliskan namaku sebagai ahli waris ataukah tidak.
Sungguh, jikalau semua harta bisa ditukar dengan kembalinya beliau. Hamba Rela.
Tidak ya, Allah. Tidak ada harta yang mampu menyetarakan dirinya.
Hamba selalu berdoa agar mampu berbakti dan menyejahterakan masa tua Ibu dan Ayahku.
Tapi, rupanya Engkau memiliki kehendak yang lain.

Sungguh, tumpahkanlah sedikit rasa sedihku kepada mereka yang masih memiliki orangtua yang utuh, Ya Allah. Tumpahkan agar mereka mampu lebih mencintai kedua orangtuanya.
Agar mereka mampu lebih menanggalkan perkara menyesatkan.
Agar mereka mampu membahagiakan kedua orangtuanya.

Ya, Allah.
Jaga Ibuku.
Peluk dia.
Terangi dan luaskan pembaringannya.
Dan, ijabahlah do'a-do'a yang hamba khususkan untuk beliau.

Amiinnn....



Bunda..
Terima kasih telah pernah mengizinkanku hidup di tubuhmu.
Bergantung pada air susumu.
Menganggu lelapnya tidurmu.
Menggambar kerutan di wajah cantikmu.
Bunda, terima kasih telah perlihatkan dunia.
Terima kasih telah antarkanku pada bahagia.
Terima kasih telah memberikanku semangat.
Terima kasih telah menjadi benteng bagiku.
Sungguh, andai kata intan berlian mampu menggambarkan semua pengorbananmu.
Maka, seluruh intan di dunia ini hanya akan mampu menggambarkan nol koma lima persen dari pengorbananmu.

Sungguh, Bunda!
Terima kasih.
Peluk aku, Bunda! Sayangi aku. Cintai aku.
Bunda, tetaplah bersamaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar