Selasa, 28 Oktober 2014

Vanila

Allah menciptakan mataku untuk mampu membedakan yang mana yang baik dan tidak atasku.
Allah mengizinkanku mencintai agar hidupku lebih berwarna, agar hidupku jauh dari membosankan.
Sungguh, andai hari ini hanyalah mimpi, aku akan tetap bersyukur pada Allah.
Selama beberapa masa memendam sesuatu yang nyatanya menyiksa sekali, nyatanya karuan sekali, kini menjadi bersemi. Kini menjadi bercahaya, bahkan lebih cerah dari Matahari.
Sungguh, ya Allah terima kasih telah mengizinkan aku jatuh cinta.

Ya Allah.
Terima kasih telah mengenalkanku padanya.
Membuat hatiku jauh dari perasaan kalut yang selama ini memelukku.
Terima kasih telah mengizinkan perasaan ini tumbuh dengan luar biasa.
Perasaan yang menghantarkanku pada keindahan mekarnya mawar.
Ya, Allah...
Sungguh aku mencintainya.
Jangan tanyakan alasannya.
Karena semua ini terjadi begitu saja, begitu cepat tapi terpatri begitu dalam di hatiku.

Apa kabar kalian wahai beburung penyampai rindu?
Rupanya kinerja kalian hebat sekali.
Rindu yang membukit ini akhirnya mampu tersampaikan.
Hanya saja, jika ini berarti pengobatnya.
Aku takut sekali rindu yang lebih meradang dan menggila akan kembali menghantui.
Bukannya benar bahwa rindu tak pernah bisa dimusnahkan?
Bahkan dengan pertemuan sekalipun.
Pertemuan hanya akan membuat rindu semakin mendarah daging.
Seperti yang selama ini Kak Irhyl sampaikan padaku.
Rindu tak pernah memiliki penawar.

Sungguh, apa yang kau berikan padaku malam ini. Akan tersimpan selamanya.
Aku tak akan pernah tertarik memakainya. Sungguh, aku akan menyimpannya.
Bahkan kardusnya pun tak akan kuizinkan tergores.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar