Jumat, 14 November 2014

Andaikan Hati Bisa di On-Off kan.



Dia menyukaiku, sedangkan aku sendiri, tidak menyukainya.
Aku menyukainya, sedangkan dia sendiri, tidak.
Selalu begitu.
Hitam dan putih.
Tak pernah benar-benar bersua. Hanya sampai pada rasa kagum. Lalu cinta, lalu musnah karena luka.

Datang,
mencintai,
terluka,
mencoba bertahan,
menyerah.
Lalu jatuh cinta lagi pada sosok yang berbeda.
Kemudian, kembali terluka dengan cara yang sama.
Hal seperti ini yang pasti hadir.
Hadir beriringan dengan cinta.
Luka.

Pernah berpikir, bagaimana jika hati bisa di On-Off-kan seenaknya?
Kau bisa mencintai seseorang yang menyukaimu.
Dan kau bisa tidak menyukai seseorang yangtidak menyukaimu.
Tapi, nyatanya sakelar On-Off itu tak pernah ada.
Tak pernah diciptakan.
Bahkan mungkin untuk selamanya akan terus begitu.
Allah akan terus membuat kisah cinta ini menjadi teka-teki.

Andai,
Andai saja, aku  bisa berhenti menyukaimu. Bisa berhenti menyukaimu hanya dengan menekan tombol Off pada sakelar hatiku.
Tapi, bagaimana jika itu benar terjadi?
Bagaimana jika memang semudah itu membolak-balik-kan hati yang tengah kalut.
Pasti dunia ini akan sangat mudah.
Sangat sederhana.
Perasaan mampu diperjual-belikan.
Bahkan semua orang pasti mampu berpindah hati dengan seenaknya, sedikit yang memilih untuk setia.
Selingkuh, pasangan yang kemarin di Offkan, lantas yang sekarang di On-kan.
Ketika sang pasangan yang kemarin datang memaki, mencaci. Yang ada hanyalah balasan cacian, dan sosok ini juga hanya perlu menekan sakelar hati untuk melupakan kejadian menyakitkan ini.
Terlalu sederhana.

Karena itu sakelar ini tak pernah diciptakan.
Allah ingin menguji sekeras dan sekokoh apa hatimu bertahan dalam tiap bebatuan dan tanjakan yang menghadang.
Betapa kuat kau bertahan, di saat banyak lelaki yang lebih hebat darinya.
Betapa pantas kau untuknya.
Betapa besar perasaanmu padanya.
Jikalau sakelar hati itu benar diciptakan, tak akan ada surat cinta, bebunga, cokelat, vanila, kalung hati, atau bahkan tak akan ada tulisan ini.
Tak akan ada lagi pesan rindu yang singgah di beranda kita untuk seseorang yang tidak disebutkan untuk siapa.
Tak ada lagi binar mata saat bertemu dengannya.
Tak ada lagi pipi merona saat melihatnya.
Tak ada lagi kekurangan oksigen dan rasa meleleh saat di dekatnya.
Sungguh, jikalau sakelar itu benar diciptakan maka musnahlah arti cinta yang sesungguhnya.

Karena, tanpa sakelar itu,
Aku diberikan kesempatan menulis,
Membagi tulisan cinta dan rindu untuk seseorang yang tak kusebutkan siapa,
Menghidupkan seseorang dalam tulisanku,
Mengabadikan perasaanku dalam sajak,
Dan, membuatku sedikit lega setelah menuliskan ini.

Andai, hati bisa di On-Off kan, sesuka hati kita.
Maka, tak akan ada lagi mata-mata yang terbangun dari tidurnya.
Merangkak sedikit untuk membasahi beberapa bagian tubuh dengan Wudhu, lalu berdo'a.
Berdo'a dengan Takzim, berharap orang itu menjadi jodohnya, tak akan.
Tak akan ada lagi, nama calon jodoh itu terselip dalam do'a.

Andai hati ini bisa di On-Off kan,
Tulisan ini tak akan pernah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar