Kamis, 13 November 2014

Lelaki yang Berkacamata


Aku melihatmu dari kacamataku. Dari sisi yang bahkan tak pernah kau coba lihat. Dari sisi yang bahkan selalu kau abaikan, dan tak pernah kau lihat.
Seolah keberadaanku memburam untukmu. 
Aku menatapmu dari mata yang telanjang, tak pernah berandai.. andai..
Tidak juga ingin merubah sedikit pun.
Aku suka apapun.
Apapun yang ada pada dirimu.
Kacamatamu.
Tawamu.
Senyummu.
Aku mengabadikanmu dalam tulisanku.
Aku memang tak pernah mampu menggapaimu, tak pernah mampu ada di sisimu. Tapi, dengan semua tulisanku. Aku merasakan keberadaanmu.
Aku merasakan kehadiranmu.
Aku merasakan semua tentangmu, bahkan di saat kau tak pernah mengharapkanku.
Andai, pena Tuhan bisa kupinjam.
Aku ingin menuliskan namamu.
Memasukkan namamu dalam daftar jodoh di kehidupanmu.
Tapi, pena itu bahkan tak pernah ada.

Aku..
Aku menyukai semuanya.
Kau begitu nyata dalam tulisanku.
Tapi, semua kebersamaan yang pernah kubayangkan, nyatanya hanya maya.
Tak nyata.

Lelaki berkacamata.
Lelaki berlesung pipit.
Aku, selalu menghadirkanmu dalam tulisanku. Dalam tempat yang bahkan tak pernah kau selami.

Tuhan, salahkah aku jatuhcinta?
Salahkan aku berharap bahkan pada anak tangga paling tinggi.
Yah, bisa. Sungguh bisa.
Karena ini Tulisanku.
Karyaku,
aku bisa melakukan apapun di sini.
Kau memang nyata di tulisanku.
Tapi, kenyataannya kau bahkan terlalu semu untuk kusentuh.
Aku berharap, aku mampu menulis naskahku sendiri.
Menulis namamu pada deretan terdepan.
Tapi, aku bukanlah Tuhan.

Aku..
Aku menghidupkanmu dalam tulisanku, lelaki berkacamata.





Dan, aku rindu sekali.
Tetapi, terkadang rasa rindu ini terdengar sangat menakutkan.
Aku takut dengan perasaanku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar