Senin, 24 November 2014

Secangkir Kopi


Malam ini, secangkir kopi menemaniku menggali kenangan.
Menamaniku merangkai pesan rindu, yang urung tersampaikan.

Malam ini sama dengan malam sebelumnya, malam bulan kemarin, bahkan malam beberapa tahun kemarin. Ketika aku dihadapkan dengan perasaan rindu yang sama, yang jua urung disampaikan. Tepatnya pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit, pesan ini kutuliskan agar tidurku sedikit lebih nyenyak.
Karena, tadi pagi saja kau sempat bertandang di dunia mimpiku. Dunia yang membuat cintaku benar-benarnya tersampaikan. Dunia yang membuatku merasa sempurna, karena disana, kau memiliki rindu yang sama.
Hanya saja, itu hanya mimpi.

Aku mengenal semua ini dengan sangat sederhana, perasaan yang sebenarnya tidak begitu rumit. Tapi, kupelihara dengan baik. Karena, seulas senyum yang hanya kutemui padamu, seulas senyum yang hanya milikmu.
Secangkir kopi, menemaniku bercerita tentangmu malam ini.
Di samping perangkat keras yang sejak tadi berkedip-kedip minta dimatikan, juga beberapa telepon genggam yang menunggu pesan dan panggilanmu. Juga, hati yang selalu menunggumu.
Usiaku kini tujuhbelas tahun. Dan, perasaan ini bukanlah cinta yang banyak kau temui di remaja lainnya, perasaan ini bahkan telah diuji waktu. Perasaan yang hadir karena seulas senyum yang tak pernah bisa kulupakan.

Kau..
Lelaki yang begitu indah di mimpi dan nyataku.
Lelaki yang begitu luar biasa di mataku, yang berhasil memupuk seluruh semangatku untuk menaiki setiap anak tangga dalam kehidupanku.
Aku tak akan pernah menyesal pernah mencintaimu.
Meski ini terdengar sangat bodoh, tapi, aku setia dalam diamku, aku setia dalam penyepianku.

Kau tahu,
Sejauh apapun aku berusaha pergi, aku berusaha melupakanmu.
Sejauh itu pula aku gagal.
Sesempurna itu pula aku gagal.
Karena hatiku, tak pernah sejalan dengan keinginanku.
Meski, bibir dan syarafku berusaha berbelok hati, berbelok kehendak.
Hatiku..
Selalu memintaku bertahan.
Sama dengan secangkir kopi yang selalu setia membuatku terjaga, hidup di tengah malam.
Aku, yang selalu hidup dalam mimpiku untuk bersamamu.

Yah, terdengar bodoh, sangat bodoh.
Siapa aku?
Aku hanya wanita biasa, dengan perasaan yang entah apa namanya.
Kagum?
Cinta?
Sayang?
Entah apa perasaan ini kunamai.
Aku sendiri tak pernah mengerti.
Beberapa kali sering aku berusaha memunafikkan.
Tapi, sesering itu pula aku tersadar kembali.
Bahwa, aku boleh saja berkata tidak, tetapi bagian paling dalam diriku tetap bertahan.
Mencintaimu.

Beberapa orang berkata kita berjodoh.
Aku hanya tertawa.
Tetapi dalam hati meng-Amin-kan.
Entah sudah berapa do'a yang melingkar di langit.
Tetapi, lagi.. lagi.. siapa aku, sampai seberani ini berharap?
Lagii.. lagii.. Sehebat apa aku sampai berani berharap memilikimu.
Aku hanyalah gadis biasa.
Apa lebihku?

Secangkir kopi di sampingku sudah mulai habis kusesap.
Bahkan, secangkir kopi ini juga sudah bosan mendengar tentang perasaanku padamu.
Tapi, entah mengapa Hatiku tak pernah bosan dengan perasaan ini.
Tapi, Sungguh, hatiku tak pernah mampu kukendalikan.

Aku mencintaimu..
Lantas, salahkah aku?
Lantas, berujung pada ruas jalan yang manakah perasaanku ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar