Sabtu, 29 November 2014

Seiris Dua Iris Pesan Hati



Apa kabarmu?
Apa kau sehat?
Kuharap demikian.
Kau tahu siapa aku, tapi kau tak akan pernah sekejap saja tertarik melihatku.
Berbeda denganku yang selalu merindukanmu.
Selalu berharap akan keberadaanmu.

Aku hanyalah perempuan biasa.
Tidaklah secantik wanita dalam buku dongeng.
Tidaklah punya kedudukan dan kekayaan berlimpah.
Tidaklah cerdas dan mampu mengubah dunia.
Aku hanyalah wanita biasa, terlalu biasa untuk sosokmu.
Lantas, kenapa aku begitu berani memanah hati padamu.
Salah, aku yang terpanah.
Sedangkan kau? Perduli saja tidak.

Kertas itu akan menjadi sesuatu yang terakhir. Mungkin.
Karena aku tak akan pernah tahu kehendak Tuhanku.
Tetapi jangan anggap itu usaha terakhirku.
Kau akan sangat salah.
Kau akan lebih nyata lagi dalam do'a dan sujudku.
Aku menyukaimu.
Selalu mendo'akan kebaikan atasmu.
Dan, aku tak pernah bermimpi memilikimu.
Karena, rasanya akan sangat sakit apabila kelak benar kau tak pernah melihatku.
Cukuplah Allah dan Aku yang tahu, sebesar apa perasaan ini.
Cukuplah aku bercerita pada Allah bahwa aku mencintaimu.
Cukuplah Allah yang mengerti posisiku.

Aku.
Aku hanyalah wanita biasa yang sedang belajar.
Belajar menata diriku, menata hatiku.
Belajar untuk tidak terlihat buruk di matamu.

Sebelum aku dipinang seseorang, yang entah kutahu siapa.
Entah kutahu dari mana,
Entah kutahu bagaimana rupanya.
Maka, izinkanlah aku, di masa lajangku untuk mencintaimu.
Mengizi do'aku dengan namamu.

Aku akan belajar melupakanmu, jika kelak benar kita tidak ditakdirkan bersama.
Benar, aku mencintaimu.
Tapi, aku terlalu takut bermimpi untuk memilikimu.

Karena cinta itu, memantaskan diri, memantapkan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar