Senin, 29 Desember 2014

21.15

Teruntuk kepada seorang teman..

Cinta itu perkara yang sangat rumit, bukan?
Bahkan jikalau kau hidup berratus-ratus tahun, cinta akan tetap menjadi perkara yang runyam sekali. Sama denganku, hidupku belum lebih tiga bulan lebih menginjak tujuh belas tahun. Ilmuku juga masih sangat sedikit perihal cinta, jangan tanya aku. Aku tak tahu banyak.
Tapi, jangan sepelehkan aku.
Aku juga merasakannya.
Bahkan ketika aku masih jabang bayi.

Kau tahu, perihal cinta bagi beberapa orang mudah saja.
Hanya perkara, Aku suka kamu, jikalau dia menjawab Ya. Maka cinta itu utuh.
Lantas akan terjadi sebaliknya, jikalau dia menjawab Tidak.
Tapi, bagiku, dia menjawab Ya atau Tidak, tetap saja itu namanya Cinta.
Kenapa? Karena perasaan cinta yang paling baik tumbuh bukan menuntut untuk balasan, tapi cinta adalah sebuah ketulusan.
Tak peduli dia merasakan hal yang sama atau tidak. Tetap bernama cinta, bukan? Malah terdengar lebih kokoh dan utuh dengan ketulusan ditambah kesabaran? Yah, kan?

Beberapa orang bilang, cinta itu perkara, sama-sama suka atau tidak.
Jikalau dia tak suka, carilah yang lain. Sampai ketemu yang benar-benar suka.
Lantas dari mana kau tahu bahwa dia berkata jujur padamu?
Bagaimana jikalau dia hanya bilang Tidak, padahal sebenarnya ia suka?
Hancurlah bibit perasaan yang tumbuh dengan tulus.

Kau tahu, selama ini aku juga merasakan hal yang sama.
Rasa suka. Bahkan lebih dari itu, kenapa? Setelah mengalami banyak sinyal tidak suka aku tetap bertahan.
Entah karena alasan apa.
Hanya karena aku belum bisa pergi.
Belum bisa meninggalkan rasa sukaku.
Dan, entah. Rasanya akan selamanya begini. Suka pada orang yang sama.
Lucu memang. Tapi, perasaan yang satu ini berbeda dari yang pernah kurasakan. Sungguh.

Kau tahu, aku menulis ini dengan begitu santai, dengan begitu jujur.
Karena kutahu, orang itu tidak akan membacanya. Dia tidak suka membaca hal seperti ini.
Jadi, kurasa aku tetap punya ruang rahasia.
Aku berada sangat jauh darimu. Untuk saat ini, dan mungkin beberapa bulan ini, jarak kita akan semakin.. semakin jauh.
Mungkin, kita akan terpisah pulau, bahkan negara. Aku sedih sendiri membayangkannya.
Bahkan, menangis saat tahu rasa sukaku akan setragis ini. Berpisah negara? Jangan tanya berapa lama. Hitungan tahun.
Mungkin, yah, sekitar enam bulan ke depan, perasaanku akan diuji kesaktiaannya. Hahhaha.

Tapi, kau tahu?
Bukankah banyak hal yang selama ini bertebaran dijalanan? Gombalan sana sini, saling bertukar sapaan, ayah-bunda. Atau apalah.
Gombalan yang akan terkikis oleh waktu dan jarak.

Dan, kau tahu? Aku berdo'a agar perasaanku tak pernah terkikis oleh waktu dan jarak. Aku berdo'a agar perasaan ini sama kekalnya dengan matahari yang setia berotasi. Amiinnn..
Hey! Aku tidak menggombal, kenapa? Karena aku tahu, kau tidak akan membaca ini. Kau tidak akan tahu ini.

Aku suka.
Tanpa peduli, dia mengabaikanku.
Dia acuh padaku.
Juga, tanpa peduli bagaimana perasaan dia padaku.
Belakang ini aku lebih sering menerima sinyal hitam.
Yah, sinyal penolakan.
Tapi, itu bukan berarti aku berhenti menyukainya.
Bukan berarti aku akan memutar haluan mencari seseorang yang suka padaku.
Tidak. Aku melihat cinta dengan cara yang berbeda.

Aku menyukainya.
Dan, benar dia tidak.
Atau, entahlah, aku tak pernah bertanya langsung.
Sebenarnya pernah, tapi dia tidak bilang apa-apa.
Dan, kurasa itu penolakan. Yang halus. Tetapi tetap saja, penolakan.

Kau, tahu.
Aku tetap mencintainya.
Meskipun dia tidak.
Kenapa? Karena kelak, aku ingin menjadi sesuatu yang tidak berubah ketika dia berbalik.
Ketika kelak dia menatapku.
Entah dengan alasan apa, mungkin bernostalgia.
Aku ingin, ketika dia bernostalgia, mendapati semuanya sudah banyak berubah.
Perubahan di kota kita, perubahan di negara kita, juga tentang pribadi masing-masing kita.
Aku ingin tahu, bahwa ada sesuatu dariku yang tidak berubah.
Yaitu perasaanku padanya.

Dan, aku yakin itulah cinta yang paling tulus yang bisa kuberikan untuknya.
Untuk temanku.

Ah, yah. Kau tahu?
Cinta itu tidak pernah terburu-buru. Selalu tepat sasaran, bahkan tak pernah bisa tertebak. Jadi, janganlah kau pernah paksakan pertemuan, juga jangan pernah kau paksakan jalannya skenario Tuhan.
Bukankah pertemuan kita selama ini, tak pernah kurencanakan? Allah yang menatanya untuk kita. Ahh, sungguh, Allah tak pernah memiliki cela dalam ciptaannya.
Karena Allah yang paling tahu.
Aku memilih mengikuti hatiku.
Dan, hatiku memintaku bertahan.
Bertahan menyukainya.
Bukankah orang sabar itu akan bahagia? Mencintaimu dengan sabar itu termasuk kategori sabar, kan?


Malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar