Jumat, 26 Desember 2014

Aku Berbicara Padamu

Tulisan ini kubuat untuk Sahabatku yang tengah terpenjara oleh kenangan.
Tulisan ini untukmu...

Hari ini aku membuka lembaran kenangan yang sudah sangat lama menemaniku, menemani langkahku yang kian menguap. Tidak, kenangan itu tidak pernah hilang, tetapi harapan atas memiliki kenangan itulah yang telah pergi seiring hembusan angin. Bagaikan butiran debu yang semakin terkikis oleh hembusan angin.
Harapan akan kenangan itu.
Bisakah terulang kembali?

Sebuah perasaan yang sama sekali tak pernah kau rencanakan, tetapi terjaid begitu saja. Langsung mengena pada bagian paling dalam hatimu. Membuatmu seolah berpikir hal ini akan mudah. Yah, mudah. Jikalau kau yang menuliskan naskah, jikalau, aku mampu membuat semua orang jatuh cinta pada.
Tapi, nyatanya, tetaplah tak ada yang bisa kau lakukan selain itu seizin Allah.

Termasuk, dicintai olehnya.

Lagi... kenangan itu datang lagi malam ini.
Menemui dalam mimpi, memberikanmu harapan, tetapi, begitu kau bangun, semilir angin itu datang lagi.
Menerbangkan tumpukan harapan yang telah kau pupuk dalam semalam.
Sungguh, apakah benar tak ada lagi harapan?
Tak bolehkah aku berharap memilikimu?
Tak bolehkah aku bermimpi bersamamu? Lagi?
Ahh, jangan buatku gila dengan pertanyaan ini.

Aku mencintaimu, sedalam ini.
Tanpa pernah kubayangkan.
Kau adalah sosok yang selama ini kucintai, melebihi cintaku sebelumnya.
Kau tahu, aku tak pernah sedalam ini mencintai, sebelum bertemu denganmu.
Dan, entah, mengapa begitu sulit mengabaikanmu.
Mengapa begitu sulit tidak menatapmu.
Mengapa begitu sulit tidak peduli padamu.
Yah, lalu kenapa kau tidak lagi menyukaiku?

Diantara semua kenangan bersama lelaki lain. Hanya kau yang mampu menghapus semua itu dalam satu tatapan mata. Diantara semua kemampuanku berdiri menatap tajam mata lelaki lain, hanya kau yang membuatku tak mampu berdiri dengan tegap.
Aku takut menatap matamu.
Aku takut melihatmu tersenyum.
Aku takut sekali memperhatikanmu.
Karena semakin aku melakukan itu, semakin terjebak aku.
Terjebak oleh perasaan yang tak bisa kubunuh.
Perasaan yang semakin kutebang, semakin tumbuh degan liar.
Semakin kuinjak semakin Resisten.
Oh, apakah ini yang dikatakan jatuh cinta? Bahkan ketika kau telah berkencan dengan lelaki lain?
Kau hanya perlu menatap matanya, dan kau benar-benar lupa bagaimana indahnya saling melontarkan kata sayang, saling menukar perhatian.
Kau tahu, hanya tatapan mata itu. Hanya perlu itu untuk membuatku terbang sampai langit yang paling tinggi.

Ah, hanya saja, perasaan ini tidak berlaku timbal-balik.
Hanya berlaku padaku, mengerikan sekali.


Beberapa hal dikehidupan nyata telah memintaku berhenti.
Meninggalkanmu, kenangan kita, melupakan semua tatapan indahmu.
Tapi, sekeras apapun mereka lakukan itu, aku semakin tak bisa.
Aku semakin terjebak.
Seolah aku tengah berada dalam perasaan yang bersikap seperti lumpur hidup.
Semakin aku mencobak menolak keberadaannya, semakin terpenjara aku.
Sungguh, semagis inikah perasaanku padamu.

Tetapi, ketika semua kenyataan dalam hidupku memintaku untuk mundur.
Tak peduli berapa banyak orang yang menyuruhku berhenti mencintaimu.
Kenapa, selalu ada keyakinan bahwa, semua yang kulakukan untukmu, tidak akan pernah sia-sia.
Ah.. entahlah, terkadang aku juga sering melakukan kesalahan saa mengikuti kata hatiku.
Semuanya ada di tanga Tuhan, bukan?


Dan, tulisan yang kutulis dengan semua kemampuanku, dengan semua kehebatanku.
Kutulis agar aku merasa lebih baik. Agar aku bisa melepaskan rinduku sendikit pada sorot matamu.
Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan sesuatu yang menjadi kesimpulan.

Tak peduli..
Tak peduli apa yang terjadi, aku hanya ingin kamu.
Meski pun, kau tidak menginginkanku.
Aku tetap akan menginginkanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar