Rabu, 24 Desember 2014

Love Story

Jatuh cinta itu bukan penyakit yang hanya dirasakan oleh seorang anak remaja.
Anak remaja yang hanya tahu membuat status-status singkat dan tak penting di sosial media.
Tetapi, jatuh cinta itu dirasakan oleh semua orang.
Entah itu oleh seorang anak yang masih berupa organ belum bernyawa, balita yang tertidur, batita yang baru belajar berjalan, remaja yang sedang berusaha keras dalam study-nya, remaja yang sedang berleha-leha dengan khanyalannya, orang dewasa yang tengah sibuk dengan perkerjaannya, atau kakek dan nenek yang sedang asyik menyeruput teh hangat. Mereka juga setia dengan cinta.
Cinta itu datang di semua keadaan, tak peduli kausehat ataupun sakit, kaulelah atau sedang segar bugar, kautengah tepekur atau bersemangat, atau kausedang di ambang kematian.
Cinta itu hadir.
Mereka nyata.
Dan, tidak dibuat-buat.

Lantas benarkah cinta tak harus memiliki?
Di dunia ini ada banyak sekali jutaan cerita cinta, jutaan kisah. Bahkan terjadi tiap detik di dunia ini.
Lantas, apakah semua kisah akan berakhir dengan saling berbalas?
Apakah cinta harus dimiliki?
Apakah cinta yang dimiliki harus berbalas?
Lantas bagaimana mengukur kadar ketulusan sebuah cinta?

Ah, ayolah.
Semua pertanyaan tentang cinta mungkin akan terjawab, dengan jawaban-jawaban yang tak memuaskan.
Akhirnya pertanyaan itu dilontarkan lagi di sana dan di sini. Dengan jawaban yang sama-sama tidak memuaskan.
Karena, terlalu banyak definisi tentang cinta, terlalu banyak kisah cinta yang menjadi pendasaran.
Lantas, bagaimana?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang hanya akan menggantung di langit.
Akan terjawab, tetapi tidak dengan kata.
Melainkan dari buih-buih dalam hati. Getaran-getaran dalam hati.
Jawabannya akan kau rasakan sendiri.

Mencintai.
Adakalanya kita akan mencintai seseorang tanpa peduli perasaan itu akan berbalas.
Tanpa peduli bagaimana ending love story-nya
Karena, ini bukan tentang Happy Ending
Tetapi tentang bagaimana awal kisah dan perjuangannya.
Bukannya setiap penyelesaian, merupakan naskah Tuhan?

Maka,
Kisah cinta ini, kisah cinta yang kualami denganmu.
Dengan begitu banyak lika-liku.
Dengan begitu banyak airmata dan tawa.
Ditemani dengan semua semburat merah jambu dan rasa kikuk.
Ah, aku rindu sekali bagaimana kau menggenggam tanganku.
Atau caramu memanggilku.
Hahahah, jangan tanya, hal yang paling kusukai darimu, adalah bagaimana kaubilang bahwa kausuka padaku. Kau menyampaikannya dengan sesuatu yang membuatku tertawa lepas.
Meski pun, aku tak pernah tahu bagaimana sekarang perasaanmu terhadap aku.

Terkadang,,,
Yah, terkadang aku ingin tahu.
Apakah kau menyayangiku?
Ya..
Atau tidak..
Itu saja.
Tapi, aku terlalu takut untuk bertanya, aku terlalu takut mendengar jawaban tidak.
Aku terlalu takut patah hati. Sebagian dari diriku berkata, kau akan menjawab tidak.
Tapi, kurasa lebih baik jawaban itu tak kudengar langsung. Aku tak pernah membayangkan bagaimana sakitnya jikalau kauberkata Tidak tepat di hadapanku.

Kau...
Kau adalah hadiah paling indah dari Tuhan.
Aku dan kau dipertemukan karena sebuah tujuan.
Tuhan menginginkan kita bertemu.
Dan semua pertemuanku denganmu sangatlah berharga.
Kau, adalah berlian bagiku.

Aku mencintaimu.
Tetapi, aku tak pernah tahu, kau kelak akan menjadi berlian yang menghiasi langkahku, ataukah menjadi berlian yang melukaiku, karena tak bisa kumiliki.
Semua itu adalah skenario Tuhan.
Dan, apapun yang terjadi, kau tetaplah menjadi berlian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar