Kamis, 25 Desember 2014

Masa Putih Abu-abu

Saat ini aku akan menulis, layaknya sedang bercerita pada secarik kertas Diary, menceritakan bagaimana eloknya perjalanan masa putih abu-abu yang lebih kurang telah kujejaki dua tahun lebih enam bulan.
Di sekolah yang biasa dikatakan sederhana, tidak mewah. Tak ada mewah-mewahnya malah. Tidak terlalu kumuh juga, karena masih layak untuk dihuni. Sekolah kami, sangat sederhana.

Sekoalh menengah kejuruan negeri satu Makassar. Disitulah tempat saya belajar banyak hal. Sekolah sederhana yang entah jarang sekali mengadakan acara, lebih sering hanya melakukan kegiatan sederhana seperti porseni dan acara keagamaan. Jangan harap ada acara spektakuler, hanya mimpi belaka.

di balik sekolah yang tak tahu apa kehebatannya itu, saya menemukan beberapa hal.
Di sana, meski sangat sederhana, tak ada kesenjangan sosial, tak perduli kau anak siapa, kau anak guru, atau anak pengusaha. Tak peduli ayahmu pengayuh becak, atau ibu kantin. Kami berteman tak pernah memedulikan biographi orangtua. Kami berteman tanpa perduli berapa assetmu.
Kami berteman, hanya berdasarkan bagaimana caramu bergaul, seterbuka apa kamu, dan sebaik apa karakter aslimu. Tanpa peduli ulangtahunmu dirayakan di hotel apa, atau kau membawa uangjajan berapa.
Kami berteman karena siapa kamu, dan bagaimana cara kamu memperlakukan teman.
Tak ada kesenjangan sosial yang begitu berarti.

Di sekolah kami yang sederhana.
Kami perlahan belajar banyak hal, mulai dari mata pelajaran khusus, sampai pelajaran moral yang didapatkan dari bergaul, dan berteman.
Memilah yang mana yang baik dan yang tidak untuk masa depan.
Belajar untuk berteman dengan seseorang tapi tetap tidak mengikuti arus mereka yang melenceng.
Saling tegur dan saling mengingatkan.
Terkadang, hal yang paling kami rindukan adalah masa-masa perjuangan.
Perjuangan menaklukkan nilai atau hati guru.
Mulai dari saling berbagi contekan, atau menghapal keguru dengan tujuan mengisi nilai orang lain.

Ah, apakah masa ini akan terlewatkan begitu saja?
Akankah terulang?
Kami sebentar lagi akan dipisahkan oleh tumpukan tugas kuliah.
Dengan perbedaan jadwal mata kulaih bahkan jarak tempat kuliah.

Dan, sebelum itu terjadi, aku ingin sekali mengabadikan cerita manis putih abu-abu dalam tulisan ini.
Apakah kalian ingat bagaimana kesalnya jika menghadapi satpam gendut setiap ingin pulang lebih cepat dari seharusnya?
Atau memaki guru-guru yang bertugas dalam hal kedisiplinan yang memotong habis rambut para Siswa yang sudah setengah mati dipanjangkan.
Lantas, bagaimana dengan guru BK yang selalu saja menggerutu saat kita mintai surat izin.
Belum lagi anak-anak osis, perekrutan baru yang sibuk berjaga di depan gerbang. Sibuk menegur jaket yang tidak dilepaskan sebelum masuk gerbang.
Tunggu, sebenarnya apa tujuannya? Mengapa harus buka Jaket? Sekolah kami memang terkadang aneh.
Belum lagi dengan aturannya yang bejibun, tidak ada HP, tidak ada sepatu berwarna, tidak boleh ada rok diatas mata kaki, atau aturan-aturan menggemaskan lainnya.

Lantas, bagaimana dengan guru-guru kami?
Hahahha, aku paling gemas dengan seorang guru bahasa indonesia yang tidak tahu menggunakan bahasa indonesia, tak dapat mengaplikasikan EyD, dan tak tahu bagaimana menjadi pengajar yang baik.
Aku serius, soal ini, ada seorang guru, guru bahasa indonesia, tapi aksennya sangat kental bahasa daerah, belum lagi, bagaimana caranya mengajar. Sangat menggemaskan, kusarankan kalian jangan pernah masuk kelasnya.
Ada pula, seorang guru yang sangat sabra dan baik, Ibu Rabaisah namanya.
Ahh, tetap ada beberapa guru yang mengagumkan, Ibu Rahma, Mam Tuty, Mam Naj,dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan satu-satu.

Bagaimana dengan temanku?
Apa kau benar ingin tahu?
Aku punya beberapa teman yang hebat dan mengagumkan.
Mereka luar biasa, karakternya juga. Ada seseorang yang manjanya luar biasa, ada juga yang cerdas, ada yang terampil, ada yang menyenangkan, ada pula yang menjengkelkan.
Heh, entahlah, aku semakin mengantuk.
Kukira, sampai sini dulu.
Aku tak bisa menyelesaikan cerita dua setengah tahun lebih enam bulan dalam satu malam, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar