Rabu, 31 Desember 2014

Semua Tentangmu

Malam ini menandai pergantian detik, menit, jam, hari, bulan, dan juga tahun. Menemukan bahwa lagi-lagi bulan Desember berlalu begitu saja, meninggalkan aku bersama kenangan yang tak pernah kau lihat lagi, meninggalkan mimpi yang kau pupuk dengan susah payah, namun saat ini kau lupakan.

Sesekali aku menatap persimpangan jalan, entah di tempat yang pernah kita lalui atau bahkan sama sekali tak pernah kujamah sebelumnya, aku membayangkan kau ada diujung jalan, menatapku dari kejauhan. Tapi, sungguh, itu ilusi yang menyakitkan. Ilusi yang menghidupkan mimpi di saat kau telah membuang segalanya. Belakangan ini kudengar bahwa kau lebih banyak menghabiskan waktumu untuk membaca buku tebal, juga menghabiskannya untuk berolahraga. Aku senang, kau selalu punya cara untuk memaksimalkan waktu yang kau punya. Heh, jangan tanya bagaimana waktuku, bagaimana aku meluangkan waktuku. Aku lebih banyak menghabiskannya dengan mengingatmu.

Beberapa hari kemarin aku sempat membaca percakapan singkat kita, juga selembar kertas masa lalu yang berkata bahwa kau mencintaiku, yah, juga selembar foto memudar yang menggambarkan dirimu. Tak ada aku di sana. Kau tahu, bagaimana bisa kau memasuki hidupku dengan cara yang begitu lama, dan sampai detik kesejuta dari kepergianmu, aku masih terperangah menatap bahumu yang menghilang. Aku masih setia menunggu punggumu berbalik, menatapku. Tapi, sungguh, lagi-lagi ini hanya ilusi yang membuatku terluka.

Kau tahu, belakangan ini aku juga lebih banyak membaca buku, jelas berbeda dengan buku kimia yang selalu kau baca. Aku lebih banyak membaca buku fiksi, membaca bagaimana kisah indah terukir dengan begitu abadi dalam sebuah buku, lantas dibaca oleh banyak orang, di ceritakan secara turun temurun. Lantas bagaimana dengan kita, apakah kisah ini hanya akan tersimpan hanya padaku. Karena kutahu, kau sendiri sudah lupa bagaimana kisah kita.

Aku tertawa, berdehem sedikit mengingat bagaimana bodohnya aku. Tapi, apa kau pikir aku berhenti setelah aku menyadari kebodohan ini. Jelas tidak! Aku tak akan pernah berhenti, aku sudah terjara oleh ilusi yang benar-benar kuat. Kepulan asap rokok seringkali menyita perhatianku. Sebagian orang merasa lebih baik setelah kepulan asap roko itu keluar dari sela bibir mereka, lantas bagaimana denganku? Aku tak menemukan satu cela pun  untuk merasa lebih baik. Aku tak menemukan satu ruang pun untuk keluar dari bayangmu.

Kau sosok yang nyatanya sangat sederhana, senyum yang biasa saja, sorot mata yang juga sama dengan orang lain, raut wajahmu juga sama dengan lelaki sebayamu. Tapi, caramu memperlakukanku membuatku bertahan, membuatku semakin gelisah, membuatku semakin tertarik padamu. Aku merasa sangat jauh lebih nyaman bersamamu. Tidak! Tak ada genggaman tangan, tak ada pelukan juga ciuman. Sungguh, tak ada. Bahkan tatapan mata juga tak ada. Waktu kami lebih banyak terbuang untuk berjalan bersama tanpa sepatah kata pun. Tapi, hal seperti ini yang membuatmu berbeda, kau menghargaiku. Aku merasa sangat dihargai dengan semua ini. Sikapmu yang dingin membuatku mengerti, kau tipe orang yang berbeda. Ah, jangan buat aku gila, jangan tersenyum padaku, dan jangan pula menatapku. Aku tak ingin semakin jatuh dalam cintamu.

Tak ada yang lebih baik dari pada lelaki yang menghargaimu. Tak ada yang lebih baik dari pada sosok yang menjaga dirimu, menjaga siapa kamu, menghargai siapa kamu. Sungguh, sikap seperti ini jauh lebih baik dari pada gombalan yang dilontarkan para pencuri hati. Karena kebanyakan dari mereka hanya akan mengajakmu bermain api. Lantas meninggalkanmu saat kau mulai terbakar.

Aku belum mengantuk, itu artinya aku masih sangat bersemangat. Bersemangat menulis lebih banyak. Pergantian tahun ini kau rayakan dengan siapa? dengan apa? apakah kau bermain petasan atau kembang api? atau malah kau habiskan dengan lebih banyak berdo'a?
Ataukah mungkin dengan membaca buku tebal lagi? Astagafirullah, kau benar-benar berbeda.

Kau tahu, aku tak pernah berharap banyak. Aku menyukaimu, tapi aku tak akan pernah sanggup memaksamu membalas perasaanku. Karena kutahu, kau lelaki yang baik. Kau seharusnya juga jatuh ditangan wanita yang baik. Dan, aku tak pernah tahu wanita yang baik itu seperti apa di matamu.
Diakah yang berseragam putih yang berpeluh menyelamatkan nyawa orang lain?
Diakah yang sedang terduduk di bawah kubah Masjid?
Diakah yang selama ini selalu di sampingmu?
Atau diakah yang selalu menuliskan surat cinta untukmu?
Aku tak pernah tahu.


Selamat malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar