Minggu, 25 Januari 2015

Aku Rindu Tawa Lepas Itu

Entah sudah berbilang berapa lama aku tidak mendengar tawa renyah milikmu. Tawa yang selama ini hanya kumiliki dari selembar gambar rona wajahmu. Tak berani aku menatap langsung wajah itu. Terlalu takut semakin bertambah suka.

Beberapa hari terakhir ini aku lebih banyak sibuk dengan pemikiranku sendiri. Meninggalkan ritual paling mengganggu pemandangan, seperti sibuk menulis namamu di papan tulis sekolah. Atau di halaman paling belakang buku tulisku ketika bosan dengan celotehan guru. Bahkan malah sering menyebut namamu saat ada penggalan kata yang sedikit mirip dengan namamu.

Kau tahu, belakangan ini aku menyadari sesuatu. Sesuatu bahwa ternyata kau sudah sangat jauh di depan. Meninggalkan aku yang sibuk memunguti kenangan. Meninggalkan kertas yang menguning, surat cinta kita, bukan?

Kau tahu....
Apa benar masa lalu hanya ada di belakang?
Errgghhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Kenyataan itu melukaiku. Sungguh, aku berharap masa lalu menjadi masa depanku. Hahah walaupun terdengar mustahil.

Oh, yah...
Bagaimana kabarmu?
Bagaimana tugas sekolahmu?
Ehemm.. Apa aku terdengar sangat formal. Yah. Seharusnya sejak tadi aku bertanya, apakah kau mencintaiku?

Kau...
Aku rindu pada tawa lepas itu.
Tanpa kau perlu tahu, aku masih setia dengan perasaanku.
Tanpa harus kau balas.
Aku masih setia dengan perasaanku.

Bodoh?
Aku sebut ini... Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar