Selasa, 06 Januari 2015

Hujan

Seharian ini hujan terus saja mengguyur bumi kita.
Bumi tempat kita bertemu, tempat aku mengenal dan mulai mencintaimu.
Yah, jangan tertawa, aku sedang tidak menggombal, sungguh.
Karena di tempat ini, di baliki semua larik-larik ini, lagi-lagi aku hanya berusaha menyalurkan perasaan tak tersampaikanku, perasaan yang menggantung di langit-langit kota kita.
Perasaan yang juga melingkar indah di angkasa, menunggu Tuhan berbaik hati menyatukannya dengan perasaanmu.

Apa kabarmu?
Apa kau merasakan dinginnya hari ini? Ataukah mungkin kau terlalu sibuk untuk peka, sama sibuknya untuk tidak tahu bagaimana perasaanku.
Lucu, yah? Aku menyukaimu, tak pernah berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasaku.
Padahal cinta itu perbuatan, tak peduli betapa banyak pun tulisan yang kubuat untukmu, kau mungkin akan berpikir aku berbohong karena tak pernah menujukkannya langsung.
Kau tahu kenapa?
Aku terlalu takut kau tahu, sebenarnya...
Aku terlalu takut kau menolakku, sama seperti api yang menolak hujan.

Malam ini hujan. Sejak magrib tadi, sejak matahari mulai tergelincir dari tahtanya.
hahhhaha.
Aku rindu.
Lucu bukan?
Beberapa orang bilang aku bodoh, bertahan pada sebuah ketidakpastian akan dirimu.
Tapi, aku merasa tidak begitu, benar, perasaanmu padaku tidak pernah pasti, tetapi,
perasaankulah yang paling pasti.

Kau tahu, aku selalu berharap kita seperti hujan dan dingin. Benar tak semua hujan akan membuat kita merasa dingin, juga tak semua dingin di sebabkan karena hujan.
Tetapi, keberadaan kita bersinggungan.

Aku berharap, sekali, kau suatu saat nanti entah kapan, kau akan benar membalas rasa sukaku, bahkan dengan rasa suka yang lebih dari yang kupunya.
Hahhaha, lucu, yah?
tapi aku selalu mengaminkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar