Sabtu, 28 Februari 2015

HUJAN UNTUK PELANGI

Sudah berapa hari berlalu sejak terakhir kali aku melihatmu. Dan sudah ratusan hari sejak aku mulai jatuh cinta padamu. Lantas bagaimana denganmu? Memerdulikanku saja tidak.
Aku sedang menatap pekatnya langit yang perlahan mulai menangis. Juga awan yang seolah datang menyemburkan hawa dingin. Atau hal paling sederhana seperti gemericik genangan air hujan yang bersimbah di rok abu anak esema. Aku rindu kamu.
Sudah terhitung ratusan hari sejak aku mulai jatuh cinta.
Dan aku sudah terlalu cinta sampai tak ingin mengganggumu dengan rasa sukaku. Takut aku hanya merusak harimu. Takut aku hanya menjadi bedebah di indahnya harimu.
Aku memutuskan tetap setia mencintaimu. Meski matamu mengagumi wanita lain. Meski hatimu mengharapkan wanita lain. Meski bibirmu menyebut nama wanita lain. Aku tetap setia mencintaimu.
Menatap dari kejauhan.
Mengagumi dan mencintaimu dari kejauhan.
Menyayangimu dalam diam.
Setulus hujan yang bersegera pergi demi pelangi.
Aku menggali kuburanku demi mencintaimu.
Menyakitkan memang.
Tapi andaikan hanya ini yang bisa menggambarkan rasa cintaku padamu.
Aku akan menjadi wanita yang paling sabar dalam mencintaimu.
Meski pun kau tak tahu hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar