Kamis, 26 Februari 2015

Menjelang tanggal 4 bulan depan

Hari ini, seperti telah mendaki sebuah gunung yang maha tinggi aku terhempas tak berdaya. Rasanya lelah sekali, mungkin bukan tentang kerasnya fisik yang dikerahkan. Melainkan otak dan hati yang bekerja lima kali lipat dari biasanya.

Tinggalkan dulu perkara lelahku, sungguh. Hal paling baik ketika tubuh lelah adalah tempat untuk bersandar dan bercerita, hari ini aku memilih selembar halaman di diary berbentuk digital ini. Yah, catatan harian yang dibaca banyak orang.

Kau tahu, setiap kali lelah, dirundung masalah, atau mungkin sedang bahagia. Seperti sedang terlihat cantik dengan gaun yang baru dibeli. Pasti ada saja orang yang ingin kau perlihatkan pertama kali, kau temani bercerita pertama kali , kau temani bertukar tawa pertama kali. Sama denganku.

Aku memilih seseorang yang entah untuk alasan apa selalu singgah. Mungkin karena keegoisanku untuk memilikinya.
Atau karena kebodohanku memimpikannya.
Aku sendiri tak tahu.
Tapi sungguh, ada kalanya saat kau memiliki teman yang ramainya riuh sekali sampai terdengar di lorong sebelah, ada saja ruang di hatimu yang sepi. Sunyi. Diam. Hening.
Ruang yang kau harap diisi olehnya.

Atau mungkin di tengah heningnya malam, dengan tubuh terkantuk. Tetiba kepala dan hatimu riweh sendiri. Ricuhi satu perkara. Perkara yang sering dinamai rindu.

Ahh, cinta itu tak pernah muda.
Rindu tapi malu jikalau bertemu.
Rindu tapi sembunyi jika bertemu.
Rindu tapi menghindar jika bertemu.
Bimbang, memilih melepaskan rindu atau malah memelihara sakitnya memendam rindu.
Aduh rumit sekali perkara hati manusia.

Jangan tanya bagaimana aku, hatiku lebih rumit lagi. Lebih gila lagi.
Detik ini bilang akan berhenti.
Kurang dari sepersepuluh detik selanjutnya,  bilang tak akan pernah bisa berhenti.

Ah,
Bertemu, aku malah menghindar.
Berteman di sosial media, malah aku blokir.
Melihat fotonya, malah menutup mata.
Ah,
Sampai tersenyum ketika bermimpi, ketika bangun menggerutu.
Yah, karena tak ingin memupuk lebih banyak harapan, memupuk lebih banyak rasa sakit.

Kau tahu, perasaan itu sungguh rumit.
Ada saja sepotong hatimu yang ingin bertahan.
Ada pula logikamu yang mulai kelelahan. Ingin mundur.

Atau malah terkadang sebaliknya, hati lelah tetapi logikamu memintamh bertahan.
Pilihan, mudah memilih, tapi bertahan pada pilihanlah yang sukar.

Ah,
Pilihanku, aku akan menikmati sakit ini.
Sakit karena memendam rasa ini.
Kau tahu saja tidak, apalagi peduli.
Mungkin jika kau tahu, kau tetap tidak peduli.
Tapi aku percaya, mungkin bukan kau, tapi ada orang yang bisa melihat ketulusan ini.
Entah siapa,
Yang mungkin perlahan akan cemburu padamu.
Cemburu pada rasa suka yang menyembahmu.
Lantas dia akan perlahan mencoba menuhankan dirinya. Mencoba mencuri tahtamu jika ia bisa.

Sudahlah, mungkin kau akan tetap tidak peduli.
Ah, malam ini aku berpikir, senyenyak apa tidurmu?
Senyenyak apa tidur orang yang menjadi faktor gelisahku malam ini.
Sepulas apa kau, di saat aku tak bisa tidur meski tubuhku sudah terkapar.
Ah, kau tetap tidak peduli.

Lihat? Perasaan ini rumit bukan?
Yah, sebenarnya sederhana.
Rasa suka ini,
Kau balas, kau sadari, tidak kau sadari, tidak kau balas, kau peduli,  kai acuhkan,  apapun sikapmu, perasaan ini tetap bernama suka kan?
Tak peduli sekeras apapun penolakanmu.
Ah, sungguh, adakah rasa suka yang lebih dalam selain rasaku?

Yang bodoh aku, atau dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar