Selasa, 24 Maret 2015

Andai..

Entah tulisan ini apa namanya.
Akan dinamakan apa.

Sayapku patah, hatiku berdarah, adakah kau penawarnya
Langit kian mendung, tetap saja kau yang kuingat
Langit hendak runtuh, tapi itu tak sanggup menggugahku
Andai hati ini bisa berteriak,
maka namamu lah yang akan ia teriakkan.
Andai air mata ini mengalir menuju penyebabnya,
maka tenggelamlah engkau
Andai melupakanmu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan

Aku mengais setiap kenangan
setiap mimpi
berharap ada yang tersisa dari masa lalu
perlahan membentuknya menjadi sebuah gambar
seolah arah pengantarmu kembali padaku

tak peduli kau tahu atau tidak,
tetapi andai rindu ini berbisik di telingamu, maka
kau tak akan pernah tertidur akan kebisingan yang dibuat.

Andai bulan bisa kugenggam,
maka kan kuhadiahkan untukmu
andai semua mimpi adalah kenyataan
dan kenyataan adalah mimpi
maka aku tak ingin mati

dan, andai kau membaca ini,
maka menggelenglah aku.
Lantas dengan tegas berkata aku tak menulisnya.
Karena, cukuplah perasaan ini,
saling membunuh dirinya.
Mengukur umur hidupnya,
memutuskan daun umurnya,
dan menarikan kenangan di atas nisannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar